Membedakan Wahhabi atau Bukan: Lihat Aqidahnya Dulu
Ketika menilai apakah seseorang termasuk Ahlussunnah wal Jama'ah, pertama yang saya lihat adalah aqidahnya. Jika bukan aqoid 50 dan masih meyakini Allah “bersemayam di atas Arsy secara tempat”, maka sudah jelas Wahhabiy, jelas bukan aqidah Asy'ari–Maturidi.
__________________
Termasuk sifat salbiyah dari 20 sifat wajib bagi Allah adalah Qiyamuhu bi nafsihi:
وَقَـائِمٌ غَـنِيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ (٧) قَـادِرْ مُـرِيْـدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
"Dan Allah berdiri sendiri, Maha Kaya, Maha Esa, Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mengetahui atas segala sesuatu."
(Nadzom Aqidatul Awam.)
ويجب في حقه تعالى القيام بالنفس ومعناه أنه تعالى لا يفتقر إلى محل ولا مخصص وضده الإحتياج إلى المحل والمخصص والدليل على ذلك أنه لو احتاج إلى محل لكان صفة وكونه صفة محال ولو احتاج إلى مخصص لكان حادثا وكونه حادثا محال
"Wajib bagi hak Allah Ta'ala, alqiyamu binnafsi (berdikari pada dzatNya), Maknanya adalah, bahwa Allah Ta'ala tidak butuh pada tempat dan sesuatu yang diwujudkan lainya. Indikasinya adalah, jika Allah butuh pada tempat, maka sudah pasti Allah adalah sifat, dan jika Allah adalah sifat, maka itu muhal, jika Allah butuh pada sesuatu yang diwujudkan, maka sudah pasti Allah adalah hadits (perkara baru) dan adanya Allah itu hadits adalah muhal."
(Tijan Addurori, Halaman 4.)
Dalil naqli bahwa Allah bersifat qiyamuhu bi nafsihi adalah firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ الْعٰلَمِينَ
"Sungguh Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 6)
Arsy adalah makhluk, mustahil Allah bertempat di Arsy, mustahil Allah butuh pada Arsy.
وَقد قَالَ امير الْمُؤمنِينَ على رَضِي الله عَنهُ ان الله تَعَالَى خلق الْعَرْش اظهارا لقدرته لَا مَكَانا لذاته وَقَالَ ايضا قد كَانَ وَلَا مَكَان وَهُوَ الْآن على مَا كَانَ
"Amirul Mukminin Sayiduna Aly Ra. Benar-benar telah Berkata: sesungguhnya Allah Swt menciptakan 'Arsy untuk menampakkan kekuasaanNya, dan tidak mengambil untuk tempat dzatNya. Beliau juga berkata: 'Allah ada dan tak butuh tempat, dan Dia sekarang sebagaimana adaNya (tak butuh tempat)'.
[عَبْد القَاهر البَغْدادي، الفرق بين الفرق، صفحة ٣٢١]
Imam As-syafi'i berkata:
ومن كفرناه من أهل القبلة: كالقائلين بخلق القرآن، وبأنه لا يعلم المعدومات قبل وجودها، ومن لا يؤمن بالقدر، وكذا من يعتقد أن الله جالس على العرش؛ كما حكاه القاضي الحسين هنا عن نص الشافعي، وقد وقع الكلام في هذا الباب، في كتاب الشهادات؛ فليطلب منه.
"Dan termasuk ahli kiblat (muslim) yang kami (ulama) hukumi kufur adalah seperti dua macam orang yang berkata akan kemakhlukan alquran (menganggap alquran makhluk) dan bahwa Allah tidak mengetahui perkara-perkara yang belum ada sebelum wujudnya, dan orang yang tidak beriman pada taqdir. Demikian pula orang yang beraqidah bahwa Allah duduk di atas 'Arsy. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Qodli Al-Hasan di sini dari Nash Imam Asy-syafi'i."
[ابن الرفعة، كفاية النبيه في شرح التنبيه، ٢٤/٤]
Makna istiwa menurut ulama:
قال الإمام أبو الليث السمرقندي في سورة الأعرف في تفسير قوله تعالى (ثم استوى على العرش ) قال بعضهم هذه من المتشابهات التى لا يعلم تأويلها إلا الله، وذكر عن يزيد بن مروان أنه سئل عن تأويله فقال: تأويله الإيمان به، وذكر أن رجلا دخل على مالك بن أنس فسأله عن قوله تعالى ( الرحمن على العرش استوى) فقال الإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة، وما أراك إلا ضالا فأخرجوه وذكر عن محمد بن جعفر نحو هذا
"Al-imam Abu Laits Assamarqond berkata mengenai surat al-'arof, firman Allah Ta'ala (tsummas tawa alal 'Arsy.) Sebagian ulama berkata bahwa ayat ini termasuk ayat mutasyabihat yang takwilnya tidak diketahui, kecuali hanya Allah semata. Disebutkan dari Yazid bin Marwan bahwa beliau ditanya mengenai takwilan firman Allah tadi, beliau menjawab, bahwa takwilnya adalah mengimaninya. Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada imam Malik bin Anas lalu bertanya kepada beliau tentang firman Allah berupa (Arrohmaanu 'alal arsyistawaa.), Maka, imam Malik menjawab, mengimani ayat tersebut adalah wajib, sedangkab menanyakannya adalah bid'ah. Tidak kulihat padamu kecuali hanya kesesatan, maka, kalian keluarkan laki-laki ini. Disebutkan juga dari Muhammad bin Ja'far seperti kisah ini juga."
(درة الناصحين صحفة ١٩٦)
وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ
“Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat menyatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui zaman.”
[عَبْد القَاهر البَغْدادي ,الفرق بين الفرق ,page 321]
Wallohu A'lamu Bishhowaab.;