Ringkas, ilmiah, dan memakai kaidah yang diakui ulama Ahlussunnah.
🕌 1. Arti Bid’ah Menurut Ulama (Tidak Semua yang Baru Itu Sesat)
A. Ulama membagi bid’ah menjadi:
Menurut Imam Asy-Syafi’i, Imam Nawawi, Imam As-Suyuthi, Imam Izz bin Abdussalam:
📌 1. Bid’ah hasanah → baik, boleh dilakukan
Contoh:
Shalat tarawih 20 rakaat jamaah
Pembuatan ilmu nahwu
Pencatatan mushaf
Adzan Jum’at dua kali
Perayaan maulid
Tahlilan dan yasinan
📌 2. Bid’ah sayyi’ah → jelek, tertolak
Contoh:
Menambah rakaat shalat fardhu
Menghalalkan yang haram
Ajaran sesat
Dalil:
Umar bin Khattab ketika mengumpulkan shalat tarawih berkata:
“Ni‘matil bid’atu hadzihi”
“Inilah sebaik-baik bid’ah.” (HR. Bukhari)
Artinya: Bid’ah yang tidak ada di zaman Nabi bisa jadi baik.
🕌 2. Bid’ah Menurut Ulama Bukan Menurut Zahir Hadis
Sebagian orang memahami hadis:
“Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)
secara tekstual.
Padahal ulama menjelaskan bahwa kata “kullu” (setiap) di sini bersifat umum tetapi dikhususkan (khusush).
Imam Nawawi berkata:
“Hadis ‘setiap bid’ah sesat’ adalah umum, namun yang dimaksud adalah bid’ah yang buruk.”
(Jami’ Syarh Muslim)
🕌 3. Para Sahabat Melakukan Amalan Baru yang Tidak Dicontohkan Nabi
Jika semua yang tidak dilakukan Nabi itu haram,
maka para sahabat harus dihukumi pelaku bid’ah sesat, padahal ini tidak benar.
Contoh amalan baru:
1. Adzan Jum’at dua kali
Dilakukan oleh Utsman bin Affan.
→ Tidak dilakukan Nabi, tetapi para sahabat membolehkannya.
2. Mushaf standar
Nabi tidak menyatukan mushaf.
Utsman menyatukannya dan ini disepakati.
3. Shalat tarawih jamaah rutin
Nabi pernah lakukan, tapi tidak rutinkan.
Umar merutinkannya → disebut “bid’ah hasanah”.
4. Penambahan titik di mushaf, harakat, ilmu tajwid
Ini semua “baru”, tetapi boleh karena mempermudah ibadah.
Jika semua hal baru itu sesat → mustahil para sahabat sepakat melakukannya.
🕌 4. Amalan Baru Boleh Jika Tidak Mengubah Inti Ibadah
Ka'idah ushul fiqh ulama:
“Al-‘ibrah bil-maqashid, la bil-ashl.”
Yang penting adalah tujuan ibadah, bukan bentuknya.
Tahlilan / yasinan tidak mengubah ibadah inti:
baca Qur’an → sunnah
dzikir → sunnah
doa untuk mayit → sunnah
sedekah → sunnah
berkumpul untuk kebaikan → sunnah
Yang berubah hanya cara pengumpulan dan waktunya, bukan ibadah aslinya.
🕌 5. Mengapa Nabi Tidak Melakukannya? Jawabannya:
Para ulama menjelaskan:
“Tarku an-nabiy” (Nabi tidak melakukan sesuatu)
bukan berarti hal tersebut haram.
Contoh:
Nabi tidak memakai mikrofon
Tidak pakai sorban jahitan modern
Tidak mengaji Rabu malam saja
Tidak membuat pengajian rutin seminggu sekali
Semua ini tidak haram walaupun baru.
Yang haram adalah menambah ibadah yang mengubah syariat, seperti menambah rakaat shalat.
🕌 6. Tahlilan Tidak Wajib → Maka Tidak Masuk Bid’ah Sesat
Bid’ah yang dilarang ulama adalah:
yang dianggap wajib,
atau mengubah tata cara ibadah tertentu.
Tahlilan tidak memenuhi dua hal itu.
Karena:
tidak dianggap wajib,
hanya kumpulan dzikir dan doa yang memang sudah disyariatkan.
🕌 7. Dalil Sunnah Hasanah (Bid’ah Baik)
Hadis sahih:
“Siapa yang membuat Sunnah Yang Baik dalam Islam, ia dapat pahala.”
(HR. Muslim)
Ini dalil utama kebolehan amalan baru selama sesuai prinsip syariat.
🕌 8. Tahlilan = Penggabungan Amal Shalih yang Sudah Disyariatkan
Isi tahlilan adalah:
baca Quran
baca tahlil
baca doa
bersedekah untuk mayit
berkumpul untuk dzikir
Semua ini amalan sah dari Quran dan Sunnah.
Jadi menggabungkan yang baik dengan cara baru ≠ bid’ah sesat.
🕌 9. Kesimpulan Jawaban untuk Debat Bid’ah
Jika ada yang bilang:
“Tahlilan itu bid’ah!”
Jawaban paling pas:
👈 1. Benar, ini bid’ah — tapi bid’ah hasanah, bukan bid’ah sesat.
Sama seperti tarawih jamaah, adzan Utsman, dan mushaf Utsmani.
👈 2. Isi tahlilan semuanya disyariatkan: Qur’an, dzikir, doa, sedekah.
Tidak ada satu pun hal haram di dalamnya.
👈 3. Nabi tidak melakukan bukan berarti haram.
Kalau begitu adzan dua kali, mushaf standar, dan tarawih rutin harus dihukumi haram juga.
👈 4. Ulama besar Ahlussunnah membolehkan tahlilan.
Ibn Hajar, Nawawi, Suyuthi, Az-Zuhayli, As-Shaukani, dan seluruh ulama Syafi'iyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar