Translate

Jumat, 31 Oktober 2025

Islam Melawan Sistem Patriarki — Menegakkan Keadilan dan Kasih Sayang

๐ŸŒฟ Judul Kajian: Islam Melawan Sistem Patriarki — Menegakkan Keadilan dan Kasih Sayang
๐Ÿ•Œ Pendahuluan
ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†، ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุณูŠุฏ ุงู„ู…ุฑุณู„ูŠู†، ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†.
Segala puji bagi Allah yang menurunkan Islam sebagai agama yang adil dan sempurna.
Islam datang bukan untuk menindas satu pihak, tetapi untuk menegakkan keseimbangan dan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan.
Di zaman jahiliyah, perempuan dianggap rendah — tidak berhak warisan, bahkan dikubur hidup-hidup.
Namun Islam datang menghancurkan sistem patriarki jahiliyah itu dan mengembalikan kehormatan perempuan sebagai makhluk mulia.
๐Ÿ“– 1. Islam Menegaskan Kesetaraan Derajat
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain.”
(QS. Ali Imran: 195)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah menilai amal dan ketakwaan, bukan jenis kelamin.
Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki peluang pahala, ilmu, dan kemuliaan.
⚖️ 2. Perbedaan Peran, Bukan Perbedaan Nilai
Islam membedakan fungsi dan tanggung jawab, tapi bukan berarti salah satunya lebih tinggi.
Laki-laki menjadi qawwam (pemimpin) karena tanggung jawab nafkah dan perlindungan, bukan karena lebih mulia.
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
(QS. An-Nisa: 34)
Artinya: pemimpin dalam tanggung jawab, bukan penguasa dalam kezaliman.
๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿฆฐ 3. Teladan Perempuan dalam Islam
๐ŸŒบ a. Khadijah r.a.
Pengusaha sukses, cerdas, dan penopang dakwah Nabi ๏ทบ.
Beliau menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan besar dalam ekonomi dan dakwah tanpa kehilangan kehormatannya.
๐ŸŒบ b. Aisyah r.a.
Seorang ulama besar dan perawi lebih dari 2.000 hadis.
Para sahabat laki-laki pun belajar ilmu agama darinya.
Ini bukti bahwa Islam tidak menutup peran perempuan dalam ilmu dan pendidikan.
๐ŸŒบ c. Ummu Salamah r.a.
Saat perjanjian Hudaibiyah, Nabi ๏ทบ menerima saran darinya — dan itu menyelamatkan situasi sulit umat Islam.
Ini menunjukkan bahwa pendapat perempuan dihargai dan bisa menjadi solusi besar.
๐Ÿ•Š️ 4. Ajaran Nabi ๏ทบ Melawan Patriarki
Rasulullah ๏ทบ tidak pernah memperlakukan perempuan sebagai bawahan, tetapi sebagai mitra kehidupan.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)
Beliau membantu pekerjaan rumah, bermusyawarah dengan istri, dan memperlakukan mereka penuh kasih sayang.
๐ŸŒ 5. Penerapan di Zaman Modern
Islam menolak budaya patriarki dengan memberi ruang adil bagi perempuan di semua bidang:
Dalam pendidikan: perempuan berhak menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Dalam ekonomi: boleh bekerja, berwirausaha, dan berkarier dengan menjaga syariat.
Dalam keluarga: istri diajak musyawarah, bukan diperintah seenaknya.
Dalam masyarakat: boleh menjadi tokoh, guru, dokter, atau pemimpin yang membawa maslahat.
๐Ÿ’ซ 6. Pesan Moral dan Hikmah
Islam datang bukan untuk mengunggulkan satu jenis kelamin, tetapi untuk menegakkan keadilan dan rahmat bagi seluruh manusia.
Nilai sejati dalam Islam adalah takwa, akhlak, dan ilmu, bukan gender atau status.
Rumah tangga dan masyarakat yang meniru akhlak Rasulullah ๏ทบ akan terbebas dari penindasan dan menjadi tempat tumbuhnya kasih sayang.
๐ŸŒน Penutup
Mari kita jadikan rumah, tempat kerja, dan masyarakat kita sebagai tempat yang:
Adil antara laki-laki dan perempuan,
Menghormati peran masing-masing,
Dan meneladani akhlak Rasulullah ๏ทบ.
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฌุนู„ ุจูŠูˆุชู†ุง ู…ู„ูŠุฆุฉ ุจุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆุงู„ู…ูˆุฏุฉ، ูˆูˆูู‚ู†ุง ู„ุงุชุจุงุน ุณู†ุฉ ู†ุจูŠูƒ ู…ุญู…ุฏ ๏ทบ.
ุขู…ูŠู† ูŠุง ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†.

Rabu, 29 Oktober 2025

Perbedaan Istimbat dengan istidlal

๐Ÿง  1. Pengertian Istimbฤแนญ (ุงِุณْุชِู†ْุจَุงุท)
๐Ÿ“– Secara bahasa:
“Istimbฤแนญ” berasal dari kata ู†َุจَุทَ yang berarti mengeluarkan air dari dalam tanah yang tersembunyi.
➡️ Maknanya secara istilah: mengeluarkan hukum yang tersembunyi dari dalil-dalilnya.
๐Ÿ“š Secara istilah ulama ushul fiqh:
ุงِุณْุชِู†ْุจَุงุทُ ุงู„ْุฃَุญْูƒَุงู…ِ ู…ِู†َ ุงู„ุฃَุฏِู„َّุฉِ ุงู„ุชَّูْุตِูŠู„ِูŠَّุฉِ
“Mengeluarkan hukum-hukum syar‘i dari dalil-dalil yang terperinci (Al-Qur’an, Hadis, Ijma‘, Qiyas, dll).”
๐Ÿ“Œ Jadi istimbฤแนญ adalah proses menggali hukum dari dalil.
Contoh:
Ulama membaca ayat: "ูˆَุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ"
→ lalu meng-istimbฤแนญ-kan bahwa salat itu wajib.
⚖️ 2. Pengertian Istidlฤl (ุงِุณْุชِุฏْู„َุงู„)
๐Ÿ“– Secara bahasa:
Dari kata ุฏَู„ِูŠู„ (dalil) yang berarti petunjuk → istidlฤl artinya menggunakan dalil sebagai petunjuk.
๐Ÿ“š Secara istilah:
“Menggunakan dalil untuk menetapkan hukum atau keyakinan.”
(Lihat: Al-Mustashfฤ – al-Ghazali)
๐Ÿ“Œ Jadi istidlฤl adalah perbuatan ber-dalil atau menunjukkan bukti terhadap suatu hukum.
Contoh:
Seseorang berkata:
“Salat itu wajib, karena Allah berfirman: ูˆَุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ.”
→ Ini namanya istidlฤl, yaitu menggunakan ayat sebagai dalil.
๐Ÿ” Perbedaan Utama:
Aspek
Istimbฤแนญ
Istidlฤl
Arti
Menggali hukum tersembunyi dari dalil
Menggunakan dalil untuk menetapkan hukum
Fokus
Proses penalaran dan penggalian hukum
Proses pembuktian atau penetapan hukum
Pelaku utama
Mujtahid (ahli istinbฤแนญ)
Semua penuntut ilmu yang berdalil
Contoh
Ulama menggali hukum zakat profesi dari qiyas
Menyebut dalil “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka...” untuk membuktikan zakat wajib
๐Ÿ•Œ Kesimpulan Ringkas:
๐Ÿ”น Istimbฤแนญ = Menggali hukum dari sumbernya
๐Ÿ”น Istidlฤl = Menunjukkan hukum dengan dalilnya
Dengan kata lain:
➡️ Istimbฤแนญ melahirkan hukum.
➡️ Istidlฤl menjelaskan atau membenarkan hukum itu dengan dalil.

Panduan Shalat Bagi Orang Sakit yang Memakai Pampers atau Selang Kencing

๐ŸŒฟ Panduan Shalat Bagi Orang Sakit yang Memakai Pampers atau Selang Kencing
๐Ÿ•Œ 1. Hukum Shalat bagi Orang Sakit
Shalat tetap wajib selama akal masih sadar.
Kewajiban tidak gugur karena sakit, tapi boleh disesuaikan dengan kemampuan.
๐Ÿ“– Dalil:
“Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu.”
(QS. At-Taghabun: 16)
“Shalatlah berdiri; jika tidak mampu maka duduk; jika tidak mampu maka berbaring.”
(HR. Bukhari no. 1117)
๐Ÿ’ง 2. Jika Najis Keluar Terus (Seperti dari Pampers atau Kateter)
Hukumnya seperti orang yang tidak bisa menahan kencing (daimul hadats).
Najis yang keluar tidak membatalkan shalat selama sudah berwudhu saat waktu shalat masuk.
๐Ÿ“– Dalil:
Nabi ๏ทบ bersabda kepada wanita istihadhah (darah terus keluar):
“Berwudhulah setiap kali hendak shalat.”
(HR. Bukhari no. 228)
๐Ÿงผ 3. Tata Cara Shalatnya
Bersihkan bagian tubuh yang terkena najis semampunya.
Ganti pampers / kantong selang jika memungkinkan dan tidak menyakiti.
Berwudhu setiap kali masuk waktu shalat.
Setelah itu, boleh shalat wajib dan sunnah selama waktu tersebut, walau najis masih keluar.
Lakukan shalat sesuai kemampuan:
Berdiri jika bisa.
Jika tidak bisa, duduk.
Jika tidak mampu duduk, berbaring.
Jika tak mampu bergerak sama sekali, cukup dengan isyarat mata atau hati.
๐Ÿ“– Dalil:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
๐Ÿง  4. Jika Pampers / Kateter Bocor
Bersihkan atau ganti sebatas kemampuan.
Jika tidak bisa, tetap shalat dan tidak perlu menunda-nunda.
๐Ÿ“– Dalil:
“Apabila aku perintahkan sesuatu, maka laksanakanlah semampu kalian.”
(HR. Bukhari no. 7288)
๐ŸŒธ 5. Tidak Perlu Mengulang Shalat
Selama sudah berwudhu dan shalat sesuai kemampuan, shalatnya sah dan tidak perlu diulang.
๐Ÿ“š Ijma‘ Ulama:
Ulama sepakat bahwa orang yang tidak mampu menjaga hadats tetap wajib shalat dan shalatnya sah.
(Imam An-Nawawi, Al-Majmu‘ 2/67)
๐ŸŒค️ 6. Pesan dan Hikmah
Allah Maha Pengasih; sakit bukan penghalang pahala.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Jika seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala seperti saat ia sehat dan beramal biasa.”
(HR. Bukhari no. 2996)
๐Ÿ•Š️ Maka jangan tinggalkan shalat, meskipun dalam keadaan lemah.
Setiap usaha untuk tetap shalat dalam sakit akan menjadi amal besar dan penghapus dosa.

Qadha Sholat

 1. Pengertian Qadha Shalat
Qadha shalat berarti melaksanakan shalat di luar waktunya karena tertinggal (terlupa atau tertidur), atau karena sengaja ditinggalkan.
Hukumnya menjadi wajib bagi yang memiliki udzur, dan diperselisihkan bagi yang meninggalkannya sengaja.
๐Ÿ“– 2. Dalil Disyariatkannya Qadha Shalat
✅ a. Hadis Nabi ๏ทบ
Dari Anas bin Malik ra:
“Barang siapa yang lupa shalat atau tertidur, maka hendaklah ia shalat ketika ia mengingatnya. Tidak ada kaffarah baginya selain itu.”
(HR. Bukhari no. 597, Muslim no. 684)
๐ŸŸข Makna: Nabi memerintahkan mengganti (mengqadha) shalat yang tertinggal karena lupa atau tertidur.
✅ b. Hadis lain (dalam kisah perang Khandaq)
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra:
“Pada hari Khandaq, Umar bin Khattab datang setelah matahari terbenam dan berkata: Wahai Rasulullah, aku hampir tidak shalat Ashar sampai matahari hampir tenggelam. Maka Nabi ๏ทบ bersabda: Demi Allah, aku pun belum shalat Ashar. Maka kami pun shalat setelah matahari terbenam.”
(HR. Bukhari no. 639, Muslim no. 631)
๐ŸŸข Makna: Nabi dan para sahabat mengqadha shalat Ashar setelah waktunya, menunjukkan bolehnya qadha bagi shalat yang tertinggal karena udzur.
⚖️ 3. Perbedaan Pendapat Ulama
๐Ÿ•Œ Pendapat Jumhur (Mayoritas Ulama)
Termasuk: Imam Syafi‘i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan sebagian Hanafiyah.
Pandangan:
➡️ Shalat yang tertinggal, baik karena lupa, tertidur, maupun sengaja ditinggalkan, tetap wajib diqadha.
Dalil mereka:
Keumuman hadis Nabi ๏ทบ:
“Barang siapa lupa shalat atau tertidur, hendaklah shalat ketika ia ingat.”
Mereka mengatakan: Jika karena lupa saja wajib diqadha, apalagi jika sengaja meninggalkannya.
Qiyas terhadap puasa Ramadhan yang batal karena sengaja: tetap wajib diqadha.
⚫ Pendapat Sebagian Ulama Salaf & Ibn Taimiyyah
Pandangan:
➡️ Shalat yang ditinggalkan karena sengaja dan tanpa udzur tidak sah diqadha, melainkan harus bertaubat dan memperbanyak amal shalih.
Dalil mereka:
Firman Allah:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 103)
๐Ÿ”น Artinya: Shalat hanya sah dilakukan pada waktunya, jika dilakukan di luar waktu tanpa uzur, maka tidak diterima.
Hadis Nabi ๏ทบ:
“Barang siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka terlepaslah ia dari perlindungan Allah.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud)
๐Ÿ”น Mereka memahami bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dosa besar, dan qadha tidak menghapus dosanya, yang bisa dilakukan hanyalah taubat dan istighfar.
Nabi ๏ทบ tidak pernah memerintahkan orang yang sengaja meninggalkan shalat untuk mengqadha, berbeda dengan yang tertidur/lupa.
๐Ÿง  4. Bantahan antar pendapat
๐Ÿ”น Bantahan terhadap yang melarang qadha:
Nabi ๏ทบ pernah mengqadha shalat di luar waktunya (seperti pada hadis perang Khandaq).
Dalam kaidah syariat, perintah qadha tidak dibatasi hanya untuk yang lupa/tidur, sebab lafaz hadis bersifat umum:
“Barang siapa lupa shalat atau tertidur…”
(artinya, meninggalkan shalat tanpa uzur tentu lebih wajib menggantinya).
๐Ÿ”น Bantahan terhadap yang mewajibkan qadha untuk yang sengaja:
Hadis perintah qadha secara eksplisit hanya berlaku bagi yang lupa atau tertidur, bukan yang sengaja.
Tidak ada satu pun riwayat sahih bahwa Nabi memerintahkan orang yang sengaja meninggalkan shalat untuk mengqadha.
Shalat adalah ibadah mahdhah (murni) yang waktunya ditentukan syariat, maka jika diluar waktu tanpa uzur, tidak sah sebagaimana shalat sebelum waktunya juga tidak sah.

๐Ÿ’ฌ 6. Penutup dan Hikmah
Qadha shalat menunjukkan rahmat Allah bagi yang lupa atau tertidur.
Namun bagi yang sengaja meninggalkannya, yang paling penting adalah taubat nasuha, memperbanyak amal, dan berkomitmen menjaga shalat tepat waktu.

Sabtu, 25 Oktober 2025

๐—•๐—จ๐—ž๐—ง๐—œ ๐—›๐—”๐—ก๐—”๐—•๐—œ๐—Ÿ๐—”๐—› ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—ž๐—”๐—™๐—œ๐—ฅ๐—ž๐—”๐—ก ๐— ๐—จ๐—๐—”๐—ฆ๐—œ๐— ๐—”๐—›

๐— ๐—”๐—ก๐—” ๐—•๐—จ๐—ž๐—ง๐—œ ๐—›๐—”๐—ก๐—”๐—•๐—œ๐—Ÿ๐—”๐—› ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—ž๐—”๐—™๐—œ๐—ฅ๐—ž๐—”๐—ก ๐— ๐—จ๐—๐—”๐—ฆ๐—œ๐— ๐—”๐—›?

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Sebelum menyebutkan beberapa fatwa ulama Hanabilah yang menyatakan kekafiran kelompok mujasimah, perlu kita dudukan dulu apa pengertian dari Tajsim ini. Karena biasanya sebagian pihak mencoba menarik kesana kemari tentang ta’rifnya sehingga dianggap tentang tajsim ini pengertiannya bias dan tidak jelas, padahal para ulama jauh-jauh hari telah mendefinisikan apa itu tajsim dan siapa kelompok mujasimmah.

๐——๐—ฒ๐—ณ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐˜€๐—ถ

Tajsim artinya berkeyakinan bajwa Allah itu berjism. Dan pengertian jisim secara bahasa artinya ุงู„ุชَّุฌَู…ُّุนُ yakni berkumpul, ุงู„ุชุดุฎุต berbentuk dan ุงู„ุชุฑูƒูŠุจ tersusun.

Al imam Ibnu Faris rahimahullah berkata : 

ุงู„ุฌูŠู… ูˆุงู„ุณูŠู† ูˆุงู„ู…ูŠู… ูŠุฏู„ُّ ุนู„ู‰ ุชุฌู…ُّุน ุงู„ุดูŠุก. ูุงู„ุฌุณู… ูƒู„ ุดุฎุต ู…ُุฏْุฑَูƒ ูƒุฐุง 

“Huruf jim sin mim (jisim) itu menunjukan berkumpulnya sesuatu maka jisim setiap bentuk adalah apa yang di temui.”[1]

Sedangkan secara istilah, karena ini penjelasan versi Hanabilah kita ambilkan pula definisinya dari madzhab ini, yakni jisim adalah :

ู…ุง ูŠู‚ุจู„ ุงู„ุฃุจุนุงุฏ ุงู„ุทูˆู„ ูˆุงู„ุนุฑุถ ูˆุงู„ุนู…ู‚ 

“Adalah sesuatu yang menerima ukuran (panjang,lebar dan dalam).”

ุฅู†ู…ุง ุงู„ุฃุณู…ุงุก ู…ุฃุฎูˆุฐุฉ ุจุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูˆุงู„ู„ุบุฉ، ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ู„ุบุฉ ูˆุถุนูˆุง ู‡ุฐุง ุงู„ุงุณู… ุนู„ู‰ ูƒู„ ุฐูŠ ุทูˆู„ ูˆุนุฑุถ ูˆุณู…ูƒ ูˆุชุฑูƒูŠุจ ูˆุตูˆุฑุฉ ูˆุชุฃู„ูŠู ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฎุงุฑุฌ ุนู† ุฐู„ูƒ ูƒู„ู‡ ูู„ู… ูŠุฌุฒ ุฃู† ูŠุณู…ู‰ ุฌุณู…ุงً ู„ุฎุฑูˆุฌู‡ ุนู† ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุฌุณู…ูŠุฉ، ูˆู„ู… ูŠุฌุฆ ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุฐู„ูƒ ูุจุทู„

"Sesungguhnya nama-nama itu diambil berdasarkan syariat dan bahasa. Dan ahli bahasa menetapkan nama ini (jism) pada setiap hal yang memiliki panjang, lebar, kedalaman, susunan, rupa, dan bentuk.

Dan Allah Ta'ala di luar dari semua hal itu, maka tidak boleh Dia dinamakan jism karena Dia keluar dari makna keadaan berjasad. Dan hal itu (penamaan-Nya sebagai jism) juga tidak datang dalam syariat, maka (penamaan itu) batal."[2]

๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ง๐—ฎ๐—ท๐˜€๐—ถ๐—บ 

Sikap kalangan ulama madzhab Hanabilah kepada orang yang menganggap Allah itu berjism, terbagi menjadi beberapa pendapat.

1. Hanya ulama dan mujtahid yang mujasimah itu kafir sedangkan orang awam yang mengikuti ulama yang tajsim tidak kafir.

2. Baik ulama maupun awamnya diperinci, kekafirannya sesuai dengan beratnya tajsim kepada Allah.

3. Semuanya (Ulama maupun awamnya) kafir secara mutlak.
 
Berikut ini adalah di antara fatwa-fatwa dari para ulama Hanabilah dalam masalah ini :

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐—ฏ๐—ป๐˜‚ ๐—ค๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต rahimahullah berkata :

ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุญุตู„ ุงู„ุชุดุจูŠู‡ ูˆุงู„ุชุฌุณูŠู… ู…ู…ู† ุญู…ู„ ุตูุงุช ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุตูุงุช ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚ูŠู† ููŠ ุงู„ู…ุนู†ู‰، ูˆู†ุญู† ู„ุง ู†ุนุชู‚ุฏ ุฐู„ูƒ ูˆู„ุง ู†ุฏูŠู† ุจู‡

“Dan sesungguhnya Tasybih dan Tajsim itu hanya muncul dari orang yang menafsirkan sifat-sifat Allah ๏ทบ sebagaimana sifat-sifat makhluk dalam hal maknanya, dan kami tidak meyakini hal itu dan tidak menjadikannya sebagai agama kami.”[3]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐—ฏ๐—ป๐˜‚ ๐—›๐—ฎ๐—บ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ุนู† ุฃุญู…ุฏ ุชูƒููŠุฑ ู…ู† ู‚ุงู„ ุนู† ุงู„ู„ู‡ ุฌุณู… ู„ุง ูƒุงู„ุฃุฌุณุงู…  

“Daripada imam Ahmad yang menyatakan kafirnya orang yang berkata dzat Allah jisim tapi tidak seperti jisim (pada umumnya).”[4]
Beliau juga berkata :

ูˆู…ู† ุดุจู‡ู‡ ุจุฎู„ู‚ู‡ ูู‚ุฏ ูƒูุฑ ู†ุต ุนู„ูŠู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆูƒุฐุง ู…ู† ุฌุณู…، ุฃูˆ ู‚ุงู„: ุฅู†ู‡ ุฌุณู… ู„ุง ูƒุงู„ุฃุฌุณุงู…، ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ู‚ุงุถูŠ

“Dan barangsiapa menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, sungguh ia telah kafir. Ini adalah naแนฃแนฃ (ketetapan) dari Imam Aแธฅmad. Demikian juga orang yang muajsimah atau berkata: "Dia adalah jism tetapi tidak seperti jism pada umumnya.”[5]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—”๐—ฏ๐˜‚ ๐—™๐—ฎ๐—ฑ๐—ต๐—น ๐—ฎ๐˜ ๐—ง๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐—บ๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูˆุฃู†ูƒุฑ ุฃุญู…ุฏ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠู‚ูˆู„ ุจุงู„ุฌุณู… ูˆู‚ุงู„: ุฅู† ุงู„ุฃุณู…ุงุก ู…ุฃุฎูˆุฐุฉ ู…ู† ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูˆุงู„ู„ุบุฉ، ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ู„ุบุฉ ูˆุถุนูˆุง ู‡ุฐุง ‏ุงู„ุงุณู… ุนู„ู‰ ุฐูŠ ุทูˆู„ٍ ูˆุนุฑุถٍ ูˆุณู…ูƒٍ ูˆุชุฑูƒูŠุจٍ ูˆุตูˆุฑุฉٍ ูˆุชุฃู„ูŠู ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฎุงุฑุฌ ุนู† ุฐู„ูƒ ูƒู„ู‡

“Dan Aแธฅmad mengingkari orang yang mengatakan Allah itu jism dengan berkata: "Sesungguhnya nama-nama diambil dari syariat dan bahasa. Sedangkan ahli bahasa menetapkan nama jism untuk sesuatu yang memiliki panjang, lebar, kedalaman, susunan, rupa, dan bentuk. Padahal Allah Ta'ala berada di luar semua hal itu.”[6]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ฎ๐˜ ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata : 

ูู„ุง ุชู‚ุจู„ ุดู‡ุงุฏุฉ .. ุงูˆ ุจุงุนุชู‚ุงุฏ ูƒู…ู‚ู„ุฏ ููŠ ุฎู„ู‚ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงูˆ ููŠ ู†ููŠ ุงู„ุฑุคูŠุฉ ุงูŠ ุฑุคูŠุฉ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุงูˆ ููŠ ุงู„ุฑูุถ ูƒุชูƒููŠุฑ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุงูˆ ุชูุณูŠู‚ู‡ู… ุจุชู‚ุฏูŠู… ุบูŠุฑ ุนู„ูŠ ุงูŠ ููŠ ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุนู„ูŠู‡ .. ูƒู…ู‚ู„ุฏ ููŠ ุงู„ุชุฌุณูŠู… ..ูˆูŠูƒูุฑ ู…ุฌุชู‡ุฏู‡ู… ุงูŠ ู…ุฌุชู‡ุฏ ุงู„ู‚ุงุฆู„ูŠู†…ูˆุนู†ุฏูŠ ุฃู† ุนุงู…ุฉ ุงู„ู…ุจุชุฏุนุฉ ูุณู‚ุฉ ูƒุนุงู…ุฉ ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจูŠู† ูƒูุงุฑ ู…ุน ุฌู‡ู„ู‡ู… ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ู„ุง ูƒูุฑ ู„ุฃู† ุฃุญู…ุฏ ุฃุฌุงุฒ ุงู„ุฑูˆุงูŠุฉ ุนู† ุงู„ุญุฑูˆุฑูŠุฉ ูˆุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ 

“Maka tidak diterima kesaksian orang fasik karena …keyakinan seperti orang yang taklid dalam masalah penciptaan al Qur'an, atau dalam melihat Allah di Akhirat, atau mengkafirkan Sahabat Nabi atau memfasikkan mereka dengan mendahulukan selain Ali yaitu dalam kekhalifahan atasnya, atau seperti orang yang taklid tajsim ..Dan dikafirkan mujtahidnya yaitu mujtahid dari orang-orang yang berpendapat seperti itu.

Dan menurutku umumnya para ahli bid'ah adalah fasik, seperti umumnya Ahli Kitab adalah kafir meskipun mereka jahil. Dan pendapat yang sahih adalah tidak kafir, karena Ahmad membolehkan riwayat dari แธคarลซriyyah dan Khawarij. “[7]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—”๐—ฏ๐˜‚ ๐—ฌ๐—ฎ’๐—น๐—ฎ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูู…ู† ุงุนุชู‚ุฏ ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ุฌุณู… ู…ู† ุงู„ุฃุฌุณุงู… ูˆุฃุนุทุงู‡ ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุฌุณู… ู…ู† ุงู„ุชุฃู„ูŠู ูˆุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„: ูู‡ูˆ ูƒุงูุฑ ู„ุฃู†ู‡ ุบูŠุฑ ุนุงุฑู ุจุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูŠุณุชุญูŠู„ ูˆุตูู‡ ุจู‡ุฐู‡ ุงู„ุตูุงุช ูˆุฅุฐุง ู„ู… ูŠุนุฑู ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡: ูˆุฌุจ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ูƒุงูุฑุงً 

“Barangsiapa meyakini bahwa Allah ta’ala itu berbentuk seperti bentuk-bentuk yang ada dan memberikan kepada-Nya hakikat jism berupa tersusun dari sesuatu dan mengalami perpindahan maka ia adalah kafir.

Sebab, ia adalah orang yang tidak mengenal Allah Azza wajalla karena Allah subhanahu wata’ala mustahil disifati dengan sifat-sifat ini. Dan apabila ia tidak mengenal Allah, maka wajib baginya untuk dianggap kafir.”[8]

Dan beliau juga berkata :

ูุฅู† ุงุนุชู‚ุฏ ู…ุนุชู‚ุฏ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตูุงุช ูˆู†ุธุงุฆุฑู‡ุง ู…ู…ุง ูˆุฑุฏุช ุจู‡ ุงู„ุขุซุงุฑ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ ุงู„ุชุดุจูŠู‡ ููŠ ุงู„ุฌุณู… ูˆุงู„ู†ูˆุน ูˆุงู„ุดูƒู„ ูˆุงู„ุทูˆู„- ูู‡ูˆ ูƒุงูุฑ. ูˆุฅู† ุชุฃูˆู„ู‡ุง ุนู„ู‰ ู…ู‚ุชุถู‰ ุงู„ู„ุบุฉ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฌุงุฒ ูู‡ูˆ ุฌู‡ู…ูŠ.
ูˆุฅู† ุฃู…ุฑู‡ุง ูƒู…ุง ุฌุงุกุช، ู…ู† ุบูŠุฑ ุชุฃูˆูŠู„، ูˆู„ุง ุชูุณูŠุฑ، ูˆู„ุง ุชุฌุณูŠู…، ูˆู„ุง ุชุดุจูŠู‡، ูƒู…ุง ูุนู„ุช ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูˆู† ูู‡ูˆ ุงู„ูˆุงุฌุจ ุนู„ูŠู‡

“Maka jika seorang meyakini tentang sifat-sifat ini dan yang sejenisnya—dari apa yang termuat dalam riwayat-riwayat yang shahih—adanya penyerupaan dalam jasad/tubuh, jenis, rupa/bentuk, dan memiliki ukuran seperti Panjang, maka ia adalah kafir.
Sedangkan jika ia mentakwil (menafsirkan)nya berdasarkan tuntutan bahasa dan secara majaz (kiasan)—maka ia adalah Jahmiah.

Dan jika ia melewatkannya sebagaimana ia datang, tanpa takwiil tafsir, tajsim dan tasybih sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat dan tabi'in—maka itulah yang seharusnya (menjadi keyakinan seorang musim).”[9]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—”๐—น ๐— ๐—ฎ๐—ฟ’๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐—บ๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูˆู…ู† ุงู„ุนุฌุจ ุฃู† ุฃุฆู…ุชู†ุง ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุจู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุณู„ู ูˆูŠุตููˆู† ุงู„ู„ู‡ ุจู…ุง ูˆุตู ุจู‡ ู†ูุณู‡ ูˆุจู…ุง ูˆุตูู‡ ุจู‡ ุฑุณูˆู„ู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุชุญุฑูŠู ูˆู„ุง ุชุนุทูŠู„ ูˆู…ู† ุบูŠุฑ ุชูƒูŠูŠู ูˆู„ุง ุชู…ุซูŠู„ ูˆู…ุน ุฐู„ูƒ ูุชุฌุฏ ู…ู† ู„ุง ูŠุญุชุงุท ููŠ ุฏูŠู†ู‡ ูŠู†ุณุจู‡ู… ู„ู„ุชุฌุณูŠู… ูˆู…ุฐู‡ุจู‡ู… ุฃู† ุงู„ู…ุฌุณู… ูƒุงูุฑ ุจุฎู„ุงู ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูุฅู† ุงู„ู…ุฌุณู… ุนู†ุฏู‡ู… ู„ุง ูŠูƒูุฑ ูู‚ูˆู… ูŠูƒูุฑูˆู† ุงู„ู…ุฌุณู…ุฉ ููƒูŠู ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุจุงู„ุชุฌุณูŠู… 

"Dan termasuk hal yang mengherankan adalah bahwa imam-imam kami dari kalangan แธคanabilah berpegang pada madzhab Salaf dan mensifati Allah dengan apa yang Dia sifati diri-Nya dan dengan apa yang Rasul-Nya sifati, tanpa penyelewengan, tanpa penolakan sifat, tanpa penentuan bentuk dan tanpa penyerupaan.

Namun demikian, anda akan menemukan orang yang tidak berhati-hati dalam agamanya menisbatkan mereka (Hanabilah) kepada tajsim. Padahal madzhab Hanbali menyatakan bahwa para mujassim adalah kafir, ini berbeda dengan madzhab Syฤfi'iyyah yang tidak sampai mengkafirkan mereka.

Maka, suatu kaum yang mengkafirkan al mujassim bagaimana mungkin mereka dikatakan berpendapat/ menyetujui tajsim?”[10]

๐—”๐—น ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐— ๐˜‚๐—ต̣๐—ฎ๐—บ๐—บ๐—ฎ๐—ฑ ๐—ฏ๐—ถ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐—ฑ๐—ฑ๐—ถ๐—ป ๐—ฎ๐—ฑ ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜†๐—พ๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—›̣๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูู…ู† ุงุนุชู‚ุฏ ุฃูˆ ู‚ุงู„ ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุจุฐุงุชู‡ ููŠ ูƒู„ ู…ูƒุงู† ุฃูˆ ููŠ ู…ูƒุงู† ููƒุงูุฑ

 "Maka barangsiapa meyakini atau berkata bahwa Allah dengan Zat-Nya berada di setiap tempat atau sebaliknya berada di suatu tempat, maka ia kafir.”[11]

ูˆู„ุง ูŠุดุจู‡ ุดูŠุฆًุง ูˆู„ุง ูŠุดุจู‡ู‡ ุดูŠุก، ูู…ู† ุดุจู‡ู‡ ุจุดู‰ุก ู…ู† ุฎู„ู‚ู‡ ูู‚ุฏ ูƒูุฑ ูƒู…ู† ุงุนุชู‚ุฏู‡ ุฌุณู…ًุง ุฃูˆ ู‚ุงู„ ุฅู†ู‡ ุฌุณู… ู„ุง ูƒุงู„ุฃุฌุณุงู…

"Dia tidak menyerupai sesuatu pun dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Maka barangsiapa menyerupakan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya, sungguh ia telah kafir, seperti orang yang meyakini dia berjism atau berkata bahwa Dia adalah jism hanya tidak sama dengan jism yang lain.”[12]

๐—”๐—ฏ๐˜‚ ๐— ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—บ๐—ฎ๐—ฑ ๐—ฎ๐—น ๐—•๐—ฎ๐—ด๐—ต๐—ฑ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู…ู† ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุฌุณู… ู„ุง ูƒุงู„ุฃุฌุณุงู… ูƒูุฑ

“Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu’anhu berkata : Siapa yang berkata bahwa Allah adalah Jism meskit idak sama dengan jism yang lain maka ia kafir.”[13]

Wallahu a’lam
 
________________________________________
[1] Mu’jam al Maqayis al Lughah (1/457)
[2] Al I’tiqad Abu Mubajjal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hlm. 298, Thabaqat al Hanabilah (2/298)
[3] Taแธฅrim an Nadzar fฤซ Kutub al Kalam hlm 69
[4] Nihayatul Mubtadiin fi Ushuliddin hlm 30
[5] Nihayatul Mubtadiin fi Ushuliddin hlm 45
[6] Al I’tiqad li imam Ahmad hlm. 45
[7] Daqaid Ulin Nuha (3/590)
[8] Thabaqat al Hanabilah hlm 499
[9] Al I’tiqad li Abi Ya’la hlm. 16
[10] Al Aqawil ats Tsiqat fi at Takwil al Asma wa ash Shifat hlm. 64
[11] Mukhtaแนฃar al Ifadat hlm 489
[12] Mukhtaแนฃar al Ifadat hlm 489
[13] Tasynif al Masami’ (4/684)

SIAPAKAH AHLI BID'AH YANG SEBENARNYA...?

Inilah yang dimaksud ahlul bid'ah oleh ulama salaf......

SIAPAKAH AHLI BID'AH YANG SEBENARNYA...?

Dalam banyak literatur disebutkan celaan terhadap ahli bid’ah. Misalnya dari Syaikh Ibnu Qudamah.  

 ูƒَุงู†َ ุงู„ุณَّู„َูُ ูŠَู†ْู‡َูˆْู†َ ุนَู†ْ ู…ُุฌَุงู„َุณَุฉِ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุจِุฏَุนِ ูˆَุงู„ู†َّุธَุฑِ ูِูŠ ูƒُุชُุจِู‡ِู…ْ ูˆَุงู„ِุงุณْุชِู…َุงุนِ ู„ِูƒَู„َุงู…ِู‡ِู…ْ 

  “Ulama salaf melarang duduk bergaul dengan ahli bid’ah, melihat kitab-kitab mereka, atau mendengarkan perkataan mereka.” 
( Ibnu Muflih al-Hanbali, al-Adabasy-Syar’iyyah, Juz I, halaman 232) .

 Banyak sekali ucapan senada. Namun intinya, ahli bid’ah adalah orang-orang yang harus dijauhi. Lantas, siapa sebenarnya ahli bid’ah? 

Pada poin ini banyak orang yang salah paham sehingga memasukkan orang yang berbeda pendapat dalam masalah fikih sebagai ahli bid’ah. Salah satunya dalam masalah qunut subuh.  Sehingga siapa pun yang melakukan qunut subuh dianggap sebagai ahli bid’ah. 
Begitu pula dalam masalah peringatan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam. Siapa pun yang menyelenggarakannya dianggap ahli bid’ah. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.     
Pola pikir semacam ini akan melahirkan sikap eksklusif yang sering kali berujung dengan radikalisme agama. Padahal, pembahasan semacam ini termasuk pembahasan fikih dan bersifat ijtihadi, sehingga tak heran bila ada mujtahid yang berbeda pendapat. Justru dalam masalah qunut dan peringatan maulid di atas,  banyak sekali imam yang menganjurkannya dengan dasar argumen masing-masing,  sehingga tak layak disebut sebagai bid’ah. 

Menurut para imam terdahulu, ahli bid’ah bukan orang yang berbeda pendapat dalam tataran fikih, tetapi orang yang tersesat dalam urusan akidah. 
Imam Ibnu Abidin, misalnya, mengungkapkan:   

  ุฃَู‡ْู„ُ ุงู„ْุจِุฏْุนَุฉِ: ูƒُู„ُّ ู…َู†ْ ู‚َุงู„َ ู‚َูˆْู„ًุง ุฎَุงู„َูَ ูِูŠู‡ِ ุงุนْุชِู‚َุงุฏَ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ุณُّู†َّุฉِ ูˆَุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ 

Artinya, “Ahli bid’ah adalah semua orang yang mengatakan perkataan yang di dalamnya menyelisihi akidah ahlus sunnah waljama’ah.” 
( Radd al-Muhtar, Juz IV, halaman 70) . 

Definisi senada dapat dilacak jauh ke belakang masa salaf. Salah satunya definisi dari  Imam Malik: 

    ุฃู‡ู„ ุงู„ุจุฏุน ุงู„ุฐูŠู† ูŠุชูƒู„ู…ูˆู† ููŠ ุฃุณู…ุงุก ุงู„ู„ู‡ ูˆุตูุงุชู‡ ูˆูƒู„ุงู…ู‡ ูˆุนู„ู…ู‡ ูˆู‚ุฏุฑุชู‡، ูˆู„ุง ูŠุณูƒุชูˆู† ุนู…ุง ุณูƒุช ุนู†ู‡ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูˆู† ู„ู‡ู… ุจุฅุญุณุงู†. 

  Artinya, “Ahli bid’ah ialah orang-orang yang berkata tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya dan tak diam dari apa yang di diamkan para sahabat dan tabi’in.” 
( AS-Suyuthi, Haqiqat as-Sunnah wa al-Bid’ah, 83) .  

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ahli bid’ah sebenarnya mengacu kepada mereka yang akidahnya menyimpang seperti akidah qodariyah, Muktazilah, atau akidah Mujassimah / Menjisimkan Allah,dan ini adalah Akidah W4hh461  ( Mengatakan Allah punya Tangan tapi tak sama dengan Tangan manusia, dan punya kaki yang besar ,dll) dan bukan mengacu kepada orang yang melakukan sesuatu yang secara fikih dianggap tak pernah dilakukan pada masa Nabi shallallahu alaihi wasallam.  Meskipun perbuatan baru semacam ini masuk dalam kategori bid’ah dalam arti haram menurut suatu pihak, namun bukan berarti pelakunya boleh disebut ahli bid’ah, apalagi bila perbuatan tersebut masih diperselisihkan di kalangan para ulama. 
Jadi sangat jellas salah satu Ahlul bid'ah yang sesat adalah W4hh461 kerna berakidah TAJSIM.
Contoh
Ketika tuhannya kaum ""WAHABI duduk di kursi maka terdengar suara kursi kocak..

TUHAN WAHABI DUDUK..

Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :

ุฅู† ู…ุญู…ุฏًุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูŠุฌู„ุณู‡ ุฑุจู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฑุด ู…ุนู‡

“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.

Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :

ุฅุฐุง ุฌู„ุณ ุชุจุงุฑูƒ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุฑุณูŠ ุณُู…ِุน ู„ู‡ ุฃุทูŠุท ูƒุฃุทูŠุท ุงู„ุฑَّุญู„ ุงู„ุฌุฏูŠุฏ

artinya: ” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.

Ibnu Taimiyah menyamakan dzat Allah dengan makhluk-Nya. Allah juga beraktifitas layaknya manusia, sebagaimana pernyataannya dalam kitab Majmรป’ Fatรขwรข  jilid 5 hal. 527 sebagai berikut:

ุงุฐุง ุฌู„ุณ ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุฑุณู‰ ุณู…ุน ู„ู‡ ุงุทูŠุท ูƒุงุกุทูŠุท ุงู„ุฑุญู„ ุงู„ุฌุฏูŠุฏ

“Apabila Allah SWT duduk di atas kursi, maka akan terdengar bunyi mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki (keriak-keriak- pen)  Wallahu a'lam

Ni pelaku bid'ah nya ๐Ÿ‘‡

Jumat, 24 Oktober 2025

๐—•๐—จ๐—ž๐—ง๐—œ ๐—ž๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ก๐—š๐—”๐—ก ๐—›๐—”๐—ก๐—”๐—•๐—œ๐—Ÿ๐—”๐—› ๐— ๐—˜๐—ก๐—ง๐—”๐—™๐—ช๐—œ๐——๐—› ๐— ๐—”๐—ž๐—ก๐—”

๐— ๐—”๐—ก๐—” ๐—•๐—จ๐—ž๐—ง๐—œ ๐—ž๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ก๐—š๐—”๐—ก ๐—›๐—”๐—ก๐—”๐—•๐—œ๐—Ÿ๐—”๐—› ๐— ๐—˜๐—ก๐—ง๐—”๐—™๐—ช๐—œ๐——๐—› ๐— ๐—”๐—ž๐—ก๐—”?

Kiyai bisa minta bukti bahwa ada dari kalangan Hanabilah itu mentafwidh secara ma’na sebagaimana yang kiyai sampaikan di video?

๐—๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Sikap para ulama terhadap sifat-sifat Allah ta’ala yang musytabihat terbagi menjadi dua, yakni dengan tafwidh dalam ma’na dan sebagiannya melakukan takwil. Kalangan Hanabilah dan pendapat yang unggul dari madzhab Asy’ariyah juga Maturidiyah melakukan tafwidh, yakni menerima dan menetapkan nash dan menyerahkan ma’na dan kaifiyahnya kepada Allah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh al imam Nawawi rahimahullah :

ุงุนู„ู… ุฃู† ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตูุงุช ู‚ูˆู„ูŠู†: ุฃุญุฏู‡ู…ุง: ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ู…ุนุธู… ุงู„ุณู„ู ุฃูˆ ูƒู„ู‡ู… ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุชูƒู„ู… ููŠ ู…ุนู†ุงู‡ุง، ุจู„ ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู†ุง ุฃู† ู†ุคู…ู† ุจู‡ุง ูˆู†ุนุชู‚ุฏ ู„ู‡ุง ู…ุนู†ู‰ ูŠู„ูŠู‚ ุจุฌู„ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุนุธู…ุชู‡، ู…ุน ุงุนุชู‚ุงุฏู†ุง ุงู„ุฌุงุฒู… ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ูŠุณ ูƒู…ุซู„ู‡ ุดูŠุก، ูˆุฃู†ู‡ ู…ู†ุฒู‡ ุนู† ุงู„ุชุฌุณูŠู… ูˆุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„ ูˆุงู„ุชุญูŠุฒ ููŠ ุฌู‡ุฉ، ูˆุนู† ุณุงุฆุฑ ุตูุงุช ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚، ูˆู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ู…ุชูƒู„ู…ูŠู†، ูˆุงุฎุชุงุฑู‡ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ู…ุญู‚ู‚ูŠู‡ู…، ูˆู‡ูˆ ุฃุณู„ู…. 

ูˆุงู„ู‚ูˆู„ ุงู„ุซุงู†ูŠ: ู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ู…ุนุธู… ุงู„ู…ุชูƒู„ู…ูŠู† ุฃู†ู‡ุง ุชุคูˆู„ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠู„ูŠู‚ ุจู‡ุง ุนู„ู‰ ุญุณุจ ู…ูˆุงู‚ุนู‡ุง، ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุณูˆุบ ุชุฃูˆูŠู„ู‡ุง ู„ู…ู† ูƒุงู† ู…ู† ุฃู‡ู„ู‡، ุจุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนุงุฑูุฉ ุจู„ุณุงู† ุงู„ุนุฑุจ ูˆู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฃุตูˆู„ ูˆุงู„ูุฑูˆุน ุฐุง ุฑูŠุงุถุฉ ููŠ ุงู„ุนู„ู…
 
"Ketahuilah bahwa sikap ahli ilmu mengenai hadits-hadits sifat terbagi menjadi dua pendapat:
Pendapat Pertama : Dan ini adalah madzhab sebagian besar kaum salaf atau semuanya, bahwa ia tidak dibicarakan) ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ, bahkan mereka berkata: 

Wajib atas kita untuk mengimaninya dan meyakini baginya makna yang layak bagi keagungan dan kebesaran Allah Ta'ala, bersamaan dengan keyakinan kita yang tegas bahwa Allah Ta'ala tidak ada yang menyerupai-Nya, dan bahwa Dia disucikan dari tajsim (dijadikan berwujud), intiqal (berpindah), terbatasi pada suatu arah, dan dari sisa sifat-sifat makhluk lainnya.

Dan pendapat ini juga adalah madzhab dari sekelompok Mutakallimin (ahli ilmu kalam), dan ia dipilih oleh sekelompok peneliti mereka, dan ini adalah pilihan pendapat yang paling selamat.

Pendapat Kedua : Adalah madzhab sebagian besar Mutakallimin bahwa ia ditakwil dengan apa yang layak baginya sesuai dengan tempatnya. Dan takwil hanya diperbolehkan bagi siapa yang ahli darinya, yaitu dengan menjadi orang yang mengetahui bahasa Arab dan kaidah-kaidah ushul maupun furu’.”[1]

Dan kalangan Hanabilah atau terkadang juga disebut Atsariyah memegang model yang pertama yakni tafwidh dan menolak takwil, berikut diantara beberapa bukti yang bisa kita hadirkan dalam masalah ini :

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—”๐—ต๐—บ๐—ฎ๐—ฑ ๐—ฏ๐—ถ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น rahimahullah.

Dan Ali bin Isa mengabarkan kepadaku bahwa แธคanbal menceritakan kepada mereka, ia berkata: "Aku bertanya kepada Abลซ 'Abdillฤh (Imam Aแธฅmad bin แธคanbal) tentang hadits-hadits yang diriwayatkan:

'Sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia,''Dan sesungguhnya Allah ta’ala akan terlihat (pada hari Kiamat),''Dan sesungguhnya Allah ta’ala meletakkan kaki-Nya,'. Dan hadits-hadits yang serupa dengan ini?"

Maka imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab :

‌ู†ุคู…ู† ‌ุจู‡ุง، ‌ูˆู†ุตุฏู‚ ‌ุจู‡ุง، ‌ุจู„ุง ‌ูƒูŠู ‌ูˆู„ุง ‌ู…ุนู†ู‰، ูˆู„ุง ู†ุฑุฏ ู…ู†ู‡ุง ุดูŠุฆุง، ูˆู†ุนู„ู… ุฃู† ู…ุง ุฌุงุกุช ุจู‡ ุงู„ุฑุณู„ ุญู‚، ูˆู†ุนู„ู… ุฃู† ู…ุง ุซุจุช ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„َّู‡ ุญู‚ ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุจุฃุณุงู†ูŠุฏ ุตุญูŠุญุฉ، ูˆู„ุง ู†ุฑุฏ ุนู„ู‰ ู‚ูˆู„ู‡

"Kami mengimaninya dan kami membenarkannya tanpa kayf (menanyakan bagaimana/hakikatnya) dan ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ'๐—ป๐—ฎ̄ (๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ). Dan kami tidak menolak sedikit pun darinya, dan kami mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh para Rasul adalah benar, dan kami mengetahui bahwa apa yang telah shahih dari Rasulullah ๏ทบ adalah benar jika ia memiliki sanad-sanad yang sahih.”[2]

Beliau juga berkata :

ุชู…ุฑ ูƒู…ุง ุฌุงุกุช ู…ู† ุบูŠุฑ ุจุญุซ ุนู† ู…ุนุงู†ูŠู‡ุง ูˆู†ุฎุงู„ู ู…ุง ุฎุทุฑ ููŠ ุงู„ุฎุงุทุฑ ุนู†ุฏ ุณู…ุงุนู‡ุง ูˆู†ู†ููŠ ุงู„ุชุดุจูŠู‡ ุนู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ุฏ ุฐูƒุฑู‡ุง ู…ุน ุชุตุฏูŠู‚ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ุง ูˆูƒู„ ู…ุง ูŠุนู‚ู„ ูˆูŠุชุตูˆุฑ ูู‡ูˆ ุชูƒูŠูŠู ูˆุชุดุจูŠู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ุญุงู„

"Hadits-hadits sifat dilewatkan sebagaimana adanya; tanpa mencari maknanya, dan kami menyalahi apa yang terlintas di dalam benak ketika mendengarnya, dan kami menafikan tasybih (penyerupaan) dari Allah Ta'ala ketika menyebutkannya, disertai pembenaran terhadap Nabi ๏ทบ dan keimanan terhadapnya, dan segala sesuatu yang dipahami akal dan dibayangkan maka itu adalah takyif (penentuan kualitas/bentuk) dan tasybih, dan itu adalah hal mustahil."[3]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐—ฏ๐—ป๐˜‚ ๐—ค๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—น ๐— ๐—ฎ๐—พ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ rahimahullah, beliau berkata :

ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ู†ุคู…ู† ุจู‡ุง ูˆู†ุตุฏู‚ ุจู‡ุง ุจู„ุง ูƒูŠู ูˆู„ุง ู…ุนู†ู‰

“Dan apa yang semisal tentang hadits (tasybih) kami mengimaninya dan membenarkannya ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐˜†๐—ณ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ.”[4]

Beliau rahimahullah juga berkata :
 
ูƒู„ ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ، ุฃูˆ ุตุญ ุนู† ุงู„ู…ุตุทูู‰ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ู…ู† ุตูุงุช ุงู„ุฑุญู…ู† ، ูˆุฌุจ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ ، ูˆุชู„ู‚ูŠู‡ ุจุงู„ุชุณู„ูŠู… ูˆุงู„ู‚ุจูˆู„ ، ูˆุชุฑูƒ ุงู„ุชุนุฑุถ ู„ู‡ ุจุงู„ุฑุฏ ูˆุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ، ูˆุงู„ุชุดุจูŠู‡ ูˆุงู„ุชู…ุซูŠู„ . ูˆู…ุง ุฃุดูƒู„ ู…ู† ุฐู„ูƒ ูˆุฌุจ ุฅุซุจุงุชู‡ ู„ูุธุงً ، ูˆุชุฑูƒ ุงู„ุชุนุฑุถ ู„ู…ุนู†ุงู‡ ، ูˆู†ุฑุฏ ุนู„ู…ู‡ ุฅู„ู‰ ู‚ุงุฆู„ู‡ ، ูˆู†ุฌุนู„ ุนู‡ุฏุชู‡ ุนู„ู‰ ู†ุงู‚ู„ู‡ ، ุงุชุจุงุนุงً ู„ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุฑุงุณุฎูŠู† ููŠ ุงู„ุนู„ู… ، ุงู„ุฐูŠู† ุฃุซู†ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุงู„ู…ุจูŠู† ุจู‚ูˆู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰: ( ูˆุงู„ุฑุงุณุฎูˆู† ููŠ ุงู„ุนู„ู… ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุขู…ู†ุง ุจู‡ ูƒู„ ู…ู† ุนู†ุฏ ุฑุจู†ุง

"Segala sesuatu yang datang di dalam al Qur'an, atau sahih dari al Musthafa ๏ทบ dari sifat-sifat ar Raแธฅman, wajib mengimaninya, dan menerimanya dengan penyerahan dan penerimaan, serta meninggalkan pembahasan padanya dengan penolakan dan takwil, tasybih dan tamtsil. 

Dan apa yang samar dari hal itu wajib menetapkannya secara lafadzh, dan ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ, dan kami kembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan kami jadikan tanggung jawabnya pada yang meriwayatkannya, mengikuti jalan ar Rasyikun fil Ilmi (orang-orang yang mendalam ilmunya).

Yang mereka dipuji oleh Allah atas mereka dalam Kitab-Nya yang jelas dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala: (Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman padanya, semuanya dari sisi Rabb kami)."[5]

Beliau rahimahullah juga berkata :

ู„ุง ู†ุฒูŠุฏูƒ ุนู„ู‰ ุฃู„ูุงุธู‡ุง ุฒูŠุงุฏุฉ ุชููŠุฏ ู…ุนู†ู‰ ุจู„ ู‚ุฑุงุกุชู‡ุง ุชูุณูŠุฑู‡ุง ู…ู† ุบูŠุฑ ู…ุนู†ู‰ ุจุนูŠู†ู‡ ูˆู„ุง ุชูุณูŠุฑ ุจู†ูุณู‡ ، ูˆู„ูƒู† ู‚ุฏ ุนู„ู…ู†ุง ุฃู† ู„ู‡ุง ู…ุนู†ู‰ ููŠ ุงู„ุฌู…ู„ุฉ ูŠุนู„ู…ู‡ ุงู„ู…ุชูƒู„ู… ุจู‡ุง ูู†ุญู† ู†ุคู…ู† ุจู‡ุง ุจุฐู„ูƒ ุงู„ู…ุนู†ู‰

“Kami tidak menambahkan pada lafadz nas tambahan yang memberikan makna, bahkan membacanya adalah tafsirnya, ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚ dan tanpa tafsir itu sendiri, tetapi kami telah mengetahui bahwa ia memiliki makna secara keseluruhan yang diketahui oleh yang mengucapkan dengannya (Allah). Maka kami mengimaninya dengan makna itu.”[6]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐—ฏ๐—ป๐˜‚ ๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฏ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ ู…ู† ุฅู…ุฑุงุฑ ุขูŠุงุช ุงู„ุตูุงุช ูˆุฃุญุงุฏูŠุซู‡ุง ูƒู…ุง ุฌุงุกุช ู…ู† ุบูŠุฑุชูุณูŠุฑ ูˆู„ุงุชูƒูŠูŠู  ูˆู„ุง ุชู…ุซูŠู„  ูˆู„ุง ูŠุตุญ ุนู† ุฃุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ุฎู„ุงู ุฐู„ูƒ ุงู„ุจุชุฉ ، ุฎุตูˆุตุง ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ   ูˆู„ุง  ุฎูˆุถ ููŠ ู…ุนุงู†ูŠู‡ุง

“Dan yang benar adalah apa yang dipegang teguh oleh Salafus Shalih, yaitu melewatkan ayat-ayat sifat dan hadits-haditsnya sebagaimana ia datang, ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐˜†๐—ถ๐—ณ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—บ๐˜๐˜€๐—ถ๐—น (๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป). Dan tidak sah riwayat dari seorang pun di antara mereka yang menyalahi hal itu sama sekali, khususnya Imam Ahmad, dan tidak ada pembahasan mendalam pada maknanya.”[7]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐—ฏ๐—ป๐˜‚ ๐—›๐—ฎ๐—บ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah, beliau berkata :

ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตูุงุช ุชู…ุฑ ูƒู…ุง ูƒู…ุง ุฌุงุกุช ู…ู† ุบูŠุฑ ุจุญุซ ุนู† ู…ุนุงู†ู‡ุง ูˆ ูƒู„ ู…ุง ูŠุนู‚ู„ ูˆ ูŠุชุตูˆุฑ ูู‡ูˆ ุชูƒูŠูŠู ูˆุชุดุจูŠู‡. ูˆู‡ูˆ ู…ุญุงู„. ูˆูŠุฌุจ ุงู† ู†ุตู ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจู…ุง ูˆุตู ุจู‡ ู†ูุณู‡ ุงูˆ ูˆุตู ุจู‡ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฅู…ุฑุงุฑู‡ ูƒู…ุง ุฌุงุก ูˆุงู† ู„ู… ูŠุนู‚ู„ ู…ุนู†ุงู‡

"Hadits-hadits tentang sifat (Allah) dilewatkan sebagaimana adanya, ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ, dan segala sesuatu yang dipahami akal atau dibayangkan (dikonsepkan) maka itu adalah takyif (penentuan kualitas/bentuk) dan tasybih (penyerupaan). Dan hal itu adalah mustahil.

Dan wajib bahwa kita menyifati Allah Ta'ala dengan apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya atau yang Rasulullah sifati bagi-Nya, dan melewatkannya sebagaimana ia datang meskipun maknanya tidak dapat dipahami akal.”[8]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ฎ๐—น ๐— ๐—ฎ๐—ฟ’๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐—บ๐—ถ rahimahullah berkata :

ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏุซ ูˆู†ุญูˆู‡ุง ุชุฑูˆ ูƒู…ุง ุฌุงุกุช. ูˆูŠููˆุถ ู…ุนู†ุงู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰
 
"Dan ketahuilah bahwa hadits-hadits ini dan yang semisalnya diriwayatkan sebagaimana adanya. Dan ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป kepada Allah Ta'ala."[9]

Beliau juga berkata :

ูˆุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ، ู…ู†ู‡ู… ุงู„ุณู„ู ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ุง ، ูˆุชููˆูŠุถ ู…ุนู†ุงู‡ุง ุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู†ู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆู„ุง ู†ُูุณุฑู‡ุง  ู…ุน ุชู†ุฒูŠู‡ู†ุง ู„ู‡ ุนู† ุญู‚ูŠู‚ุชู‡ุง

“Dan mayoritas Ahlus Sunnah, di antaranya Salaf dan Ahli Hadis, berpegang pada keimanan terhadapnya, dan ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ yang dimaksud darinya kepada Allah Ta'ala, dan kami tidak menafsirkannya, bersamaan dengan penyucian kami dari hakikatnya.”[10]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ณ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ฎ๐—น ๐—›๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ rahimahullah berkata :

ูู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุณู„ู ููŠ ุขูŠุงุช ุงู„ุตูุงุช ุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุคูˆู„، ูˆู„ุง ุชูุณุฑ ุจู„ ูŠุฌุจ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ุง، ‌ูˆุชููˆูŠุถ ‌ู…ุนู†ุงู‡ุง ุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู†ู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ูู‚ุฏ ุฑูˆู‰ ุงู„ู„ุงู„ูƒุงุฆูŠ ุงู„ุญุงูุธ ุนู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงู„ุญุณู† ู‚ุงู„ ุงุชูู‚ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูƒู„ู‡ู… ู…ู† ุงู„ู…ุดุฑู‚ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุบุฑุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจุงู„ุตูุงุช ู…ู† ุบูŠุฑ ุชูุณูŠุฑ ูˆู„ุง ุชุดุจูŠู‡

“Maka madzhab kaum salaf dalam ayat-ayat sifat adalah bahwa ia tidak ditakwil dan tidak juga ditafsirkan (ditentukan maknanya secara pasti), bahkan wajib mengimaninya, dan ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ yang dimaksud darinya kepada Allah Ta'ala.

Sungguh al Lalikai al Hafiz telah meriwayatkan dari Muhammad bin al-Hasan, ia berkata: "Para fuqaha semuanya, dari timur hingga barat, sepakat atas keimanan terhadap sifat-sifat tanpa tafsir dan tanpa tasybih (penyerupaan)."[11]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ฏ๐—ถ๐—ป ๐—จ๐˜๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ถ๐—ป ๐—ค๐—ฎ’๐—ถ๐—ฑ ๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ฎ๐—ท๐—ฑ๐—ถ al Hanbali rahimahullah berkata : 

ูู…ุง ุฌุงุก ูู‰ ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุฌุจ ุนู„ู‰ ูƒู„ ู…ุคู…ู† ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠูู‡ู… ู…ุนู†ุงู‡

“Maka apa pun yang datang dari al Kitab dan as Sunnah, wajib atas setiap mukmin untuk mengimaninya ๐—บ๐—ฒ๐˜€๐—ธ๐—ถ๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐—ถ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ.”[12]

๐—”๐—น ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐—ฏ๐—ป๐˜‚ ๐—•๐—ฎ๐˜๐˜๐—ต๐—ฎ๐—ต al Hanbali rahimahullah berkata : 

๏ปฃ๏บŽ ๏ปญ๏บป๏ป’ ุง๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปง๏ป”๏บด๏ปช ๏ป“๏ป˜๏บฎุงุก๏บ—๏ปช ๏บ—๏ป”๏บด๏ปด๏บฎ๏ปฉ، ๏ปŸ๏ปด๏บฒ ๏ปท๏บฃ๏บช ๏บƒ๏ปฅ ๏ปณ๏ป”๏บด๏บฎ๏ปฉ ๏บ‡๏ปป ุง๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏บฐ ๏ปญ๏บŸ๏ปž.  ูุงู†ุธุฑ ู€ ุนุงูุงูƒ ุงู„ู„ู‡ ู€ ุฅู„ู‰ ู‚ูˆู„ู‡ู…: ุชุฑูˆู‰ ูƒู…ุง ุฌุงุกุช ุชُู…َุฑُّ ูƒู…ุง ุฌุงุกุช  ูู‚ุฑุงุกุชُู‡ ุชูุณูŠุฑُู‡  ู„ุง ุชُูَุณَّุฑูˆู„ุง ุชُุชَูˆَู‡َّู… , ูˆู„ุง ูŠู‚ุงู„: ูƒูŠูَ ู„ุชุนู„ู… ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุชููˆูŠุถ ุนู†ุฏ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ 

“Sufyan bin 'Uyainah berkata: ‘Apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya, maka membacanya adalah penafsirannya. Tidak seorang pun berhak menafsirkannya kecuali Allah Azza wajalla.

Maka lihatlah – semoga Allah memberikan kesehatan kepadamu – pada perkataan mereka: "Diriwayatkan sebagaimana ia datang," "dilewatkan sebagaimana ia datang," "maka membacanya adalah penafsirannya," " ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ." Agar engkau mengetahui makna at-tafwฤซแธ (penyerahan makna) menurut Salafus Saleh.”[13]

Wallahu a’lam.
________________________________________
[1] Syarh Shahih Muslim (3/19)
[2] Jami’ li Ulum Imam Ahmad (3/396)
[3] Lawami’ al Anwar Bahiyah (1/241)
[4] Lum’atul I’tiqad hlm. 60
[5] Lum’atul I’tiqad hlm. 6
[6] Taแธฅrim an-Naแบ“ar fi Kutub al Kalam hlm 59
[7] Fadhlu Ilmi Salaf ala Khalaf hlm. 33
[8] NIhayatul Mubtadiin fi Ushuluddin hlm. 33
[9] Al Aqawil ats Tsiqat fi at Takwil al Asma wa ash Shifat hlm 117
[10] Al Aqawil ats Tsiqat fi at Takwil al Asma wa ash Shifat hlm 65
[11] Lawami’ al Anwar Bahiyah (1/219)
[12] Najatul Khalaf fi I’tiqadul Salaf hlm. 14
[13] Al Ibanah al Kubra hlm 123

Jumat, 17 Oktober 2025

Benarkah mencium tangan dengan membungkukkan badan itu haram?


Saat ini pesantren diserang dari berbagi sisi, banyak muncul fitnah dan salah paham terhadap tradisi di pesantren mulai dari santri mencium tangan dan kaki kiai, membungkuk saat lewat di hadapan guru, jongkok ketika minum di hadapan ulama, hingga duduk menunduk di majelis ilmu. Semua itu oleh sebagian pihak dianggap sebagai “feodalisme”, bahkan lebih jauh lagi disebut “ghuluw” (berlebihan dalam memuliakan manusia).

Padahal, yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah tidak setiap bentuk tunduk atau membungkuk berarti ibadah. Dalam syariat, sujud dan rukuk memang bentuk ibadah jika disertai niat pengagungan sebagaimana kepada Allah. Tetapi jika dilakukan sekadar penghormatan, maka hukumnya berbeda, tergantung pada konteks dan niatnya.

Rasulullah ๏ทบ memang melarang sahabat untuk rukuk dalam bentuk ibadah kepada manusia. Dalam hadis:

 ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ ู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ: ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ، ุฃَุญَุฏُู†َุง ูŠَู„ْู‚َู‰ ุตَุงุญِุจَู‡ُ ุฃَูŠَู†ْุญَู†ِูŠ ู„َู‡ُ؟ ู‚َุงู„َ: «ู„َุง».

“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ๏ทบ: ‘Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang ia temui?’ Beliau menjawab: ‘Tidak boleh.’”
(HR. Ibnu Majah no. 3702, hadist Hasan)

Hadis ini melarang rukuk dalam arti membungkuk sebagaimana dalam salat, yang merupakan bentuk ibadah. Bukan sekadar menundukkan badan karena sopan santun atau menghormati orang tua dan ulama. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan:

 ุงู„ู†َّู‡ْูŠُ ุนَู†ْ ุงู„ْุฅِู†ْุญِู†َุงุกِ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ุชَّุนَุจُّุฏِ ูƒَุงู„ุฑُّูƒُูˆุนِ، ูَุฃَู…َّุง ู…َุง ูƒَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ْุฅِูƒْุฑَุงู…ِ ุฏُูˆู†َ ุนِุจَุงุฏَุฉٍ ูَู„َุง ุจَุฃْุณَ ุจِู‡ِ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ุจِู‚َุฏْุฑٍ ูŠَุณِูŠุฑٍ.

“Larangan membungkuk berlaku jika dilakukan dalam bentuk ibadah seperti rukuk. Namun bila sekadar penghormatan tanpa maksud ibadah dan tidak berlebihan, maka tidak mengapa.”

Inilah yang sering luput dipahami. Menunduk karena adab, berbeda dengan rukuk karena ibadah. Sebab ukuran ibadah adalah niat, bukan hanya bentuk gerakan lahiriah.

Kalau setiap tunduk atau menunduk dianggap menyembah, maka bagaimana dengan ayat ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam?

 ูˆَุฅِุฐْ ู‚ُู„ْู†َุง ู„ِู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉِ ุงุณْุฌُุฏُูˆุง ู„ِุขุฏَู…َ ูَุณَุฌَุฏُูˆุง ุฅِู„َّุง ุฅِุจْู„ِูŠุณَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis.”
(QS. Al-Baqarah: 34)

Apakah malaikat menyembah Adam? Tentu tidak. Para ulama sepakat, sujud itu bukan dalam makna ibadah, tetapi sujud takrim yakni bentuk penghormatan, bukan penyembahan. Imam al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya:

 ุงู„ุณُّุฌُูˆุฏُ ู„ِุขุฏَู…َ ูƒَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ุชَّูƒْุฑِูŠู…ِ ู„َุง ุนَู„َู‰ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ْุนِุจَุงุฏَุฉِ، ูˆَุฅِู„َّุง ู„َู…َุง ุฃُู…ِุฑُูˆุง ุจِู‡ِ.

“Sujud kepada Adam dilakukan dalam bentuk penghormatan, bukan penyembahan. Karena kalau itu penyembahan, tentu Allah tidak akan memerintahkannya.”
(Tafsir al-Qurthubi, 1/293)

Iblis menolak sujud bukan karena ia takut syirik, tapi karena kesombongan.

 ู‚َุงู„َ ุฃَู†َุง ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِّู†ْู‡ُ ุฎَู„َู‚ْุชَู†ِูŠ ู…ِู† ู†َّุงุฑٍ ูˆَุฎَู„َู‚ْุชَู‡ُ ู…ِู† ุทِูŠู†ٍ

“Ia (Iblis) berkata: Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Al-A‘rฤf: 12)

Artinya, tidak mau menghormati orang yang Allah muliakan itu justru sifat iblis, bukan sifat orang beriman.

Maka, ketika santri menunduk di hadapan gurunya, atau mencium tangan, bahkan kaki ulama, itu dilakukan bukan dalam makna ibadah, melainkan bentuk takzim dan tawaduk terhadap ilmu. Bahkan tradisi ini ada dalam riwayat yang sahih.

Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:

 ูَู‚َุจَّู„َุง ูŠَุฏَู‡ُ ูˆَุฑِุฌْู„َู‡ُ ูˆَู‚َุงู„َุง ู†َุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّูƒَ ู†َุจِูŠٌّ

“Maka mereka berdua mencium tangan dan kaki Rasulullah ๏ทบ seraya berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah Nabi Allah.”
(HR. Tirmidzi no. 2733, Hadist Shahih)

Dan dalam sejarah ulama, Imam Muslim yg dikenal ahli hadis muktabar dan seorang murid besar Imam Bukhari pernah berkata kepada gurunya ini:

 ุฏَุนْู†ِูŠ ุญَุชَّู‰ ุฃُู‚َุจِّู„َ ุฑِุฌْู„َูŠْูƒَ ูŠَุง ุฃُุณْุชَุงุฐَ ุงู„ْุฃُุณَุงุชِุฐِูŠู†َ ูˆَุณَูŠِّุฏَ ุงู„ْู…ُุญَุฏِّุซِูŠู†َ ูˆَุทَุจِูŠุจَ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ ูِูŠ ุนَู„َู„ِู‡ِ.

“Biarkan aku mencium dua kakimu, wahai mahaguru, pemuka ahli hadis, dan pakar dalam ‘ilal hadits.”

Perkataan ini diriwayatkan dalam Tฤrฤซkh Baghdฤd karya Imam al-Khatib al-Baghdadi. Ini menunjukkan betapa besar penghormatan murid kepada gurunya di kalangan para ulama terdahulu.

Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani juga menegaskan dalam Fath al-Bari:

 ูˆَู‚َุฏْ ุซَุจَุชَ ุฃَู†َّ ุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉَ ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠُู‚َุจِّู„ُูˆู†َ ูŠَุฏَ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ๏ทบ ูˆَุฑِุฌْู„َู‡ُ ุชَุนْุธِูŠู…ًุง ู„َู‡ُ، ูَู„َุง ูŠُู†ْูƒَุฑُ ุฐَู„ِูƒَ ู…ِู…َّู†ْ ูَุนَู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِู‡ِ ู…ِู†ْ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ูˆَุงู„ุฏِّูŠู†ِ.

“Telah tetap (dalam riwayat) bahwa para sahabat mencium tangan dan kaki Nabi ๏ทบ sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Maka tidak sepatutnya hal itu diingkari bila dilakukan oleh ahli ilmu dan agama setelahnya.”

Jadi, mencium tangan atau kaki kiai bukanlah perbuatan syirik atau ghuluw, selama tidak diniatkan sebagai ibadah. Itu adab yang sudah hidup dalam tradisi keilmuan Islam selama berabad-abad.

Sebaliknya, justru meninggalkan adab kepada guru dan ulama dengan dalih takut ghuluw bisa menumbuhkan kesombongan halus dalam hati. Karena ilmu tidak akan menetap di hati yang congkak.

Kalau malaikat saja diperintah sujud kepada Adam sebagai penghormatan, lalu kenapa manusia tidak boleh menunduk dengan sopan di hadapan ulama yang menjadi pewaris para nabi?

 ุงู„ุนُู„َู…َุงุกُ ูˆَุฑَุซَุฉُ ุงู„ุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ

“Para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud no. 3641)

Maka, tunduk karena adab bukan syirik apalagi menyembah. Menunduk karena hormat bukan ghuluw. Dan pesantren, dengan segala tradisi tawaduknya, justru sedang menjaga warisan adab ilmu yang semakin hilang di zaman ini.

Aqidah Salaf yang sebenarnya (Sahabat Ali ra)

Sahabat Ali ra.
beliau berkata : "Sungguh Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu Anhu (W 40
H) berkata: Sesungguhnya Allah ta'ala menciptakan Arasy untuk
menunjukkan kekuasaannya bukan untuk memberikan tempat
kepada dzatnya. Dan ia berkata pula; Sungguh Allah telah ada
tanpa tempat dan ia sekarang sama seperti yang dahulu ".
Al Farqu Baina Al Firaq Li Abi Mashur: 278
➡️Allah tak bertempat dan Arsy bukanlah tempat Allah tapi panggung pertunjukkan kekuasaanNya.
➡️sebelum menciptakan tidak bertempat/bersemayam, dan sekarang pun tetap sama tidak bertempat/bersemayam.

Kamis, 16 Oktober 2025

Hukum musik menurut madzhab Syafi’i

Hukum musik menurut madzhab Syafi’i dibahas cukup rinci oleh para ulama pengikut Imam asy-Syafi‘i. Secara umum, pendapat madzhab Syafi’i cenderung mengharamkan musik yang melalaikan atau mengandung unsur maksiat, namun masih memberi ruang bagi bentuk-bentuk musik tertentu yang tidak bertentangan dengan syariat.
Mari kita bahas secara sistematis ๐Ÿ‘‡
๐Ÿ•Œ 1. Pandangan Imam asy-Syafi’i
Imam asy-Syafi’i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata:
"Aku meninggalkan di Irak sesuatu yang dinamakan taghbฤซr (nyanyian yang diiringi ketukan tongkat) yang dibuat oleh orang-orang zindiq untuk melalaikan manusia dari Al-Qur’an."
(Lihat: al-Amr bi al-Ittibฤ‘ wa al-Nahy ‘an al-Ibtidฤ‘, karya al-Bayhaqi, hal. 164)
Beliau menganggap nyanyian yang melalaikan sebagai perbuatan yang tidak layak bagi seorang mukmin, karena bisa menjauhkan dari dzikir dan Al-Qur’an.
Namun, tidak ditemukan nash tegas dari beliau yang mengharamkan seluruh bentuk nyanyian dan musik secara mutlak.
๐Ÿ“š 2. Pandangan Ulama Madzhab Syafi’i Setelahnya
Para ulama Syafi’iyyah berbeda tingkat ketegasannya, tapi umumnya sepakat:
a. Musik yang mengandung maksiat → Haram
Misalnya:
Lirik berisi maksiat, syahwat, cinta terlarang, hinaan, atau kekufuran.
Alat musik digunakan untuk hal sia-sia atau menjauhkan dari ibadah.
๐Ÿง• Imam an-Nawawi (ulama besar Syafi’i) berkata:
“Alat musik seperti ‘ลซd (gitar Arab), tanbลซr, dan seruling (mizmar) adalah haram dimainkan dan didengar.”
(Al-Majmลซ‘ Syarh al-Muhadzdzab, 11/577)
Namun beliau juga menjelaskan bahwa nyanyian tanpa alat musik, jika tidak melalaikan dan tidak mengandung maksiat, hukumnya makruh, bukan haram.
b. Nyanyian tanpa alat musik dan berisi hal baik → Boleh
Jika isi syairnya mengandung:
Pujian kepada Allah dan Rasul,
Semangat jihad,
Nasihat atau hiburan yang tidak melalaikan,
maka dibolehkan, bahkan kadang dianjurkan.
๐Ÿ’ฌ Dalilnya adalah hadits:
Rasulullah ๏ทบ mendengarkan para budak wanita menyanyi di hari raya dengan rebana (duff) tentang perang Badr.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama Syafi’iyyah menjadikan ini dalil bahwa rebana dalam acara tertentu (seperti pernikahan dan hari raya) boleh, karena ada manfaat syar‘i di dalamnya.
⚖️ 3. Kesimpulan Hukum Musik Menurut Madzhab Syafi’i
Jenis Musik / Nyanyian
Hukum
Keterangan
Musik berisi maksiat (zina, cinta dunia, menghina agama)
Haram
Karena menjerumuskan dalam dosa dan kelalaian
Musik tanpa maksiat tapi melalaikan ibadah
Makruh / Haram
Tergantung kadar kelalaiannya
Nyanyian tanpa alat musik, isi baik
Mubah (boleh)
Jika tidak melalaikan dari dzikir
Rebana (duff) dalam acara syar‘i (nikah, hari raya)
Boleh
Berdasarkan hadits shahih
Musik yang mendukung maksiat (tempat maksiat, campur baur lawan jenis, dsb.)
Haram
Karena sarana menuju haram
๐Ÿ’Ž 4. Hikmah dan Kaidah
Imam asy-Syafi’i menekankan bahwa:
“Segala yang melalaikan dari dzikir kepada Allah adalah tercela.”
(Lihat: Adab asy-Syafi’i wa Manฤqibuhu karya Ibn Abi Hatim)
➡️ Jadi, bukan musiknya yang selalu haram, tapi dampak dan konteksnya yang menentukan.
๐ŸŒฟ 5. Contoh Aplikatif di Zaman Sekarang
Musik religi (sholawat, nasyid, tanpa alat haram) → boleh.
Musik pop yang memuat cinta duniawi dan menimbulkan syahwat → haram.
Mendengarkan musik sambil lalai shalat → berdosa bukan karena musiknya, tapi karena kelalaian.
✨ 6. Quote Penutup
๐ŸŽต “Bukan setiap nada itu dosa, dan bukan setiap diam itu taqwa. Tetapi, yang bernilai adalah apa yang mendekatkan kita pada Allah.”

Senin, 13 Oktober 2025

Menguatkan Sinergi Ekonomi Lokal dan Global dengan Nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin


 “Menguatkan Sinergi Ekonomi Lokal dan Global dengan Nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”

๐Ÿ“œ 1. Pembukaan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang telah mengatur seluruh urusan kehidupan manusia — dari urusan ibadah, muamalah, hingga urusan ekonomi.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ๏ทบ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Tema kajian kita pada kesempatan kali ini adalah:
“Menguatkan Sinergi Ekonomi Lokal dan Global dengan Nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.”
Tema ini penting sekali, karena di zaman globalisasi saat ini, ekonomi bukan hanya soal angka dan pasar — tapi juga soal keberkahan, keadilan, dan kemanusiaan.
๐ŸŒฟ 2. Makna Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Ekonomi
Allah Ta’ala berfirman:
ูˆَู…َุง ุฃَุฑْุณَู„ْู†َุงูƒَ ุฅِู„َّุง ุฑَุญْู…َุฉً ู„ِّู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Makna rahmatan lil ‘alamin mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi.
Artinya, setiap aktivitas ekonomi seorang muslim — berdagang, berwirausaha, bekerja, atau berinovasi — harus membawa manfaat, keadilan, dan kebaikan bagi sesama, bukan merugikan orang lain.
Ekonomi yang berlandaskan rahmat akan menciptakan kesejahteraan, bukan keserakahan. Ia menumbuhkan kebersamaan, bukan ketimpangan.
๐Ÿ’ก 3. Prinsip Ekonomi dalam Al-Qur’an
Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.”
Ayat ini menunjukkan keseimbangan.
Islam tidak melarang kita kaya, tidak melarang kita berbisnis besar, tapi mengingatkan agar kekayaan itu menjadi alat menuju akhirat, bukan tujuan akhir.
Begitu pula dalam QS. An-Nahl ayat 90:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan...”
Keadilan (‘adl) dan kebaikan (ihsan) menjadi pondasi ekonomi Islam.
Tanpa keadilan, ekonomi hanya akan menguntungkan segelintir orang.
Tanpa kebaikan, ekonomi kehilangan ruh kemanusiaannya.
๐Ÿ•‹ 4. Teladan Para Sahabat dalam Membangun Ekonomi
๐Ÿบ Abdurrahman bin Auf r.a.
Ketika hijrah ke Madinah, beliau datang tanpa membawa apa pun. Namun beliau berkata:
“Tunjukkan padaku di mana pasar.”
Beliau bekerja keras, berdagang dengan jujur, hingga menjadi salah satu sahabat terkaya yang banyak berinfak di jalan Allah.
➡️ Pelajaran: Kemandirian ekonomi adalah bagian dari jihad.
Umat Islam harus kuat agar bisa memberi, bukan sekadar menerima.
๐Ÿ’Ž Utsman bin Affan r.a.
Beliau dikenal dermawan dan sukses dalam perdagangan. Saat kaum muslimin kekurangan air, beliau membeli sumur Raumah dan menghibahkannya untuk umat.
Ketika perang Tabuk, beliau menyumbangkan 1000 unta dan banyak harta.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang ia lakukan hari ini.” (HR. Tirmidzi)
➡️ Pelajaran:
Kekayaan sejati bukan di dompet, tapi di hati.
Harta yang dikelola dengan iman menjadi alat dakwah dan sumber keberkahan.
๐ŸŒ 5. Sinergi Ekonomi Lokal dan Global dalam Pandangan Islam
๐ŸŒพ A. Penguatan Ekonomi Lokal
Islam mengajarkan agar umatnya mandiri.
Kita perkuat UMKM, pertanian, produk halal, dan industri kreatif lokal.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
➡️ Artinya, umat Islam harus menjadi produsen, bukan sekadar konsumen.
Kita kembangkan potensi daerah dengan nilai kejujuran dan keberkahan.
๐ŸŒ B. Peran Ekonomi Global
Di era digital dan perdagangan internasional, umat Islam harus aktif terlibat dalam pasar global.
Tapi prinsipnya harus jelas: halal, adil, dan bermanfaat.
Islam tidak menutup diri dari globalisasi, tapi mengaturnya agar membawa rahmat, bukan kerusakan.
Kita gunakan teknologi global untuk memperkuat ekonomi lokal — bukan malah kehilangan jati diri.
๐Ÿค C. Sinergi Keduanya
Ekonomi lokal menjadi pondasi, ekonomi global menjadi perluasan manfaat.
Nilai Islam menjadi pengikat keduanya:
Kejujuran dalam transaksi
Keadilan dalam harga dan upah
Tanggung jawab sosial (zakat, infak, wakaf)
Kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan
Jika prinsip ini diterapkan, maka lahirlah sistem ekonomi yang rahmatan lil ‘alamin — rahmat bagi manusia dan alam.
๐Ÿ’ฌ 6. Quotes dan Renungan Islami
๐Ÿ•Š️ “Bekerjalah seolah engkau hidup selamanya, dan beribadahlah seolah engkau akan mati esok hari.” – (Ali bin Abi Thalib r.a.)
๐ŸŒฟ “Islam tidak menentang kemajuan ekonomi, tapi mengaturnya agar membawa rahmat, bukan keserakahan.”
๐Ÿ’ซ “Kekuatan ekonomi umat adalah benteng dakwah. Bila umat kuat secara ekonomi, maka Islam akan tegak dengan kemuliaan.”
๐Ÿงญ 7. Langkah Praktis Membangun Sinergi Ekonomi Islami
Mulai dari diri sendiri: Gunakan dan dukung produk halal lokal.
Berdayakan masyarakat: Bantu UMKM, petani, dan pedagang kecil dengan semangat tolong-menolong.
Gunakan teknologi untuk maslahat: Promosikan produk umat lewat digital marketing yang jujur dan etis.
Bangun kolaborasi antarwilayah dan negara: Dalam perdagangan halal, pariwisata syariah, dan zakat global.
Tegakkan nilai Islam: Hindari riba, manipulasi, dan ketidakadilan dalam bisnis.
๐ŸŒธ 8. Penutup dan Doa
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ekonomi dalam Islam bukan sekadar mencari kekayaan, tapi membangun peradaban yang berkeadilan dan penuh rahmat.
Ketika ekonomi lokal kuat, dan ekonomi global bersinergi dalam nilai Islam, maka umat ini akan menjadi umat yang mandiri, berdaya, dan membawa kebaikan bagi seluruh alam.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali Imran: 110)
Mari kita niatkan usaha, perdagangan, dan pekerjaan kita sebagai bagian dari ibadah, sebagai jalan menebar rahmat bagi sesama.
๐Ÿคฒ Doa Penutup
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุฑْุฒُู‚ْู†َุง ุฑِุฒْู‚ًุง ุญَู„َุงู„ًุง ุทَูŠِّุจًุง ูˆَุงุณِุนًุง ู…ُุจَุงุฑَูƒًุง ูِูŠู‡ِ
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rezeki yang halal, baik, luas, dan penuh keberkahan.”
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุฌْุนَู„ْู†َุง ุฃُู…َّุฉً ู‚َูˆِูŠَّุฉً ุจِุฏِูŠู†ِู‡َุง ูˆَุจِุงู‚ْุชِุตَุงุฏِู‡َุง، ูˆَุงู†ْูَุนْ ุจِู†َุง ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ
“Ya Allah, jadikan kami umat yang kuat dalam agama dan ekonominya, serta jadikan kami sumber manfaat bagi seluruh alam.”
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apakah Anda ingin saya bantu buatkan versi power point (slide kajian) dari materi ini — agar bisa digunakan untuk presentasi atau kajian di masjid?
Kalau iya, saya bisa siapkan file PPT dengan poin-poin ringkas, ayat, dan kutipan hadis di setiap slide.