Translate

Tampilkan postingan dengan label contoh tanya jawab di kajian awam mengenai sifat Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh tanya jawab di kajian awam mengenai sifat Allah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2025

contoh tanya jawab di kajian awam mengenai sifat Allah

Kaidah emas (dibuka di awal majelis)
Sampaikan dulu satu kalimat ini:
“Allah disifati dengan apa yang Allah sifati diri-Nya,
tanpa diserupakan dengan makhluk
dan tanpa dibayangkan bentuknya.”
Ini kunci agar jamaah aman dari tasybih dan ta‘thil.
1. Analogi bahasa: lafaz sama, makna bertingkat
Contoh:
Kata “ada”:
Batu ada
Pohon ada
Malaikat ada
Manusia ada
👉 Semuanya “ada”, tapi:
Tingkatannya berbeda
Hakikatnya tidak sama
📌 Maka:
Allah Ada, tapi keberadaan-Nya tidak sama dengan makhluk.
➡️ Kesamaan lafaz ≠ kesamaan hakikat
2. Analogi sifat melihat (paling efektif untuk awam)
Ilustrasi:
Bayi melihat samar
Orang dewasa melihat jelas
Elang melihat dari jauh
Kamera CCTV melihat tanpa nyawa
👉 Sama-sama “melihat”, tapi:
Kualitasnya beda
Caranya beda
Alatnya beda
📌 Maka ketika Allah berfirman “Allah Maha Melihat”:
Kita tetapkan
Tapi tidak menyamakan dengan mata
➡️ Karena sesama makhluk saja berbeda, apalagi Khalik.
3. Analogi “di atas” tanpa tempat
Bahasa sehari-hari:
“Jabatanmu sudah di atas aku”
“Nilai dia di atas rata-rata”
“Ilmunya di atas kami”
👉 Tidak satu pun bermakna tempat fisik.
📌 Maka:
Ketika Allah menyebut di atas ‘Arsy,
kita imani ketinggian-Nya,
tanpa membayangkan arah atau bentuk.
➡️ Karena arah dan tempat adalah makhluk.
4. Analogi waktu & perubahan
Contoh:
Manusia berubah setiap detik
Gunung berubah pelan
Matahari bertahan lama tapi tetap makhluk
📌 Sedangkan Allah:
Tidak berubah, tidak bertambah, tidak berkurang
➡️ Maka mustahil Allah “duduk”, “berpindah”, atau “butuh tempat”.
5. Kalimat tanya jamaah & jawaban aman
Jamaah:
“Kalau Allah di atas, berarti Allah di arah?”
Jawaban:
“Arah itu ciptaan Allah.
Allah ada sebelum arah diciptakan.”
Jamaah:
“Kalau Allah melihat, pakai apa?”
Jawaban:
“Allah melihat dengan cara yang layak bagi-Nya,
bukan seperti makhluk.”
6. Penutup dakwah (menenangkan)
“Iman bukan untuk dipertengkarkan,
tapi untuk ditenangkan.
Semakin kita mengenal kebesaran Allah,
semakin kita sadar
bahwa Allah tidak bisa dibayangkan.”