Translate

Kamis, 21 Mei 2026

Fadhilah berqurban

Berkurban itu ibadah yang unik. Di satu sisi ada darah, pisau, dan hewan. Di sisi lain justru isinya cinta, ketaatan, dan pelepasan ego. Seolah Allah ingin menunjukkan: “yang sampai kepada-Ku bukan dagingnya, tapi hati di balik itu.” Ada sesuatu yang sangat manusiawi dan sangat langit dalam ibadah ini.
Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” — (QS. Al-Hajj: 37)
Beberapa fadhilah dan keutamaan berkurban:
1. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
Kurban adalah jejak cinta dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Bayangkan beratnya:
Ibrahim menunggu anak bertahun-tahun.
Setelah hadir, justru diperintah menyembelihnya.
Ismail pun tidak memberontak.
Dan keduanya sama-sama berkata “siap.”
Kurban setiap tahun seperti pengingat:
“Apa yang paling kita cintai? Dan apakah kita rela mendahulukan Allah di atas itu?”
Kadang yang harus “disembelih” bukan manusia atau hewan, tapi:
kesombongan,
cinta dunia berlebihan,
ego,
pelit,
atau ketakutan kehilangan rezeki.
2. Amalan yang sangat dicintai Allah di hari Idul Adha
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi)
Ada sesuatu yang indah di sini. Di saat banyak orang sibuk membeli untuk dirinya sendiri, orang yang berkurban justru mengeluarkan hartanya agar orang lain bisa makan.
3. Mendatangkan pahala besar
Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Pada setiap helai bulunya terdapat satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah — meski sebagian ulama membahas derajat hadisnya)
Maknanya: Allah menunjukkan betapa Dia menghargai pengorbanan hamba-Nya, bahkan sampai detail kecil.
Lucu juga ya… manusia sering merasa amalnya kecil. Tapi Allah bisa membesarkan sesuatu yang tampak sederhana.
4. Melatih keikhlasan dan mengikis sifat bakhil
Harta itu lengket di hati manusia. Kadang dompet lebih keras dibuka daripada tutup toples rengginang nenek-nenek 😭
Makanya kurban itu latihan:
rela memberi,
rela berbagi,
rela mengurangi milik sendiri demi orang lain.
Dan anehnya, orang yang ikhlas berkurban sering merasa hatinya justru lebih lapang setelahnya.
5. Membahagiakan fakir miskin dan mempererat ukhuwah
Di banyak tempat, ada keluarga yang jarang sekali makan daging kecuali saat Idul Adha.
Ketika kurban dibagikan:
ada anak-anak yang tersenyum,
dapur yang biasanya sepi jadi ramai,
tetangga saling mengantar makanan,
orang kaya dan miskin duduk di hari yang sama.
Idul Adha itu punya aroma asap sate dan persaudaraan. Campuran yang sangat Nusantara sekali.
6. Menjadi syiar Islam
Allah berfirman:
“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.” — (QS. Al-Hajj: 32)
Kurban bukan sekadar tradisi tahunan. Ia tanda bahwa umat Islam masih hidup dengan nilai:
taat,
berbagi,
dan pengorbanan.
Hikmah yang dalam dari kurban
Kadang manusia ingin dekat kepada Allah tanpa mau kehilangan apa pun.
Padahal hampir semua cinta besar meminta pengorbanan.
Nabi Ibrahim diuji dengan anak. Siti Hajar diuji dengan kesendirian. Nabi Ismail diuji dengan kepatuhan.
Dan kita… diuji dengan versi kita masing-masing.
Mungkin bukan pisau dan sembelihan. Mungkin:
rasa gengsi,
rasa takut,
atau sesuatu yang diam-diam terlalu kita pertuhankan.
Kurban datang tiap tahun seperti pertanyaan lembut:
“Apa yang paling sulit kau lepaskan demi Allah?”
Dan itu pertanyaan yang diam-diam bisa membuat hati sangat jujur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar